Monday, January 17, 2011

HATI - TUMPUAN PANDANGAN ALLAH


HATI merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Hati ini tidak akan terlepas dari tanggung jawab yang dilakukannya kelak di akhirat, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra: 36)

Dalam tubuh manusia kedudukan hati dengan anggota yang lainnya adalah ibarat seorang raja dengan seluruh bala tentara dan rakyatnya, yang semuanya tunduk di bawah kekuasaan dan perintahnya, dan bekerja sesuai dengan apa yang dikehendakinya.
“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

MENJAGA KEIKHLASAN

RAMAI yang bertanya kepada saya bagaimana nak jaga keikhlasan hati ketika beramal atau melakukan kebaikan?

Ada satu perkara yang perlu kita fahami iaitu IKHLAS ini adalah buah atau natijah dari keimanan dan ketaatan kepada Allah سبحانا وتعاﱃ . Ikhlas tidak dibina diatas dasar yang tidak jelas atau diawang-awangan. Apabila kita benar-benar merasai hakikat kebesaran dan keagungan Allah disamping menyakini segala janji-janji dan ancaman-ancamanNya serta meyakini hari pertemuan denganNya maka ketika itu pohon keimanan yang ada pada jiwa kita mula mengeluarkan buahnya untuk kita petik dan menikmati kemanisannya.






IMAN TIDAK TIMBUL SECARA AUTOMATIS


Ya, buah Ikhlas itu manis dan harum. Namun tak semua pohon Iman itu mengeluarkan buah atau hasil. Tidak semua pula yang tahu memetik buahnya untuk menikmati anugerah Allah yang agung ini. Mungkin kita perlu tanya: Adakah benihnya baik, ada tanahnya telah kita gemburkan dan bajai dengan baik, adakah air yang kita sirami cukup dan sebagainya?

Iman tidak akan tumbuh secara mukjizat (Bicara Hidayah; automatis). Kita perlu tanamkan benih yang asli dan baik; kita perlu bangunkan iman itu diatas asas keimanan dan kesedaran yang betul, bukan kerana keturunan atau warisan tetapi kita perlu melalui proses.

Friday, January 14, 2011

HATI YANG KERAS PUNCA HILANGNYA خُشُوْعُ (KHUSYU’)

 
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, agar tunduk hati mereka untuk mengingat Allah dan tunduk pada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya yang telah diturunkan Al Kitab kepadanya, setelah berlalu masa yang panjang lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.“(al Hadid :16)

خُشُوْعُ berarti tenang, tunduk, merendahkan hati, lunak dan rasa takut. Fiil madhinya khasya’a dan mudhari’nya yakhsya’u.

خُشُوْعُ adalah sifat dan suasana hati dimana ia memiliki pengaruh yang kuat terhadap gerak gerik seluruh anggota badannya, karena itu خُشُوْعُ -nya hati akan nampak pada perilaku dan ucapan lisan. Al Hakim meriwayatkan hadith dari Abu Hurairah dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda: “andaikata hati ini خُشُوْعُ, maka akan خُشُوْعُ -lah seluruh anggota tubuhnya.” (Jami’s Shaghir 130)

Hati menjadi tempat dimana Allah memandang dan menilai seseorang, karena bukan pakaian, bentuk tubuh, atau warna kulit yang dipandangNya, tetapi Allah memandang suasana hatinya, apakah خُشُوْعُ atau tidak. Walaupun seorang muslim secara syariat sudah melaksanakan solat tapi bila tidak terdukung dengan خُشُوْعُ nya hati, akan mengurangi nilai ibadahnya.

Imam Muslim dan Ibnu Majah meriwayatkan hadith dari Abu Hurairah dengan sanad sahih bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
    “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat bentuk tubuhmu dan harta bendamu tetapi sungguh Dia melihat pada hati dan amal perbuatan kalian.” (Jami’us Shaghir 74)

DUNIA KITA HIDUP KITA


BISAKAH kita membayangkan bagaimana dulu, Adam dan Hawa, menjalani hidup ketika hanya mereka berdua yang menghuni bumi ini?

Mungkin mudah membayangkan bagaimana mereka mencari makan untuk menyambung hidup, atau membuat rumah tempat mereka berteduh, atau membuat pakaian untuk menutup aurat mereka. Tapi coba bayangkan bagaimana pada mulanya mereka menemukan bahasa sebagai alat komunikasi mereka? Atau bagaimana pada mulanya mereka mengenal satu per satu dari jengkal tanah bumi ini?

Bagaimana mereka mengetahui atau menyepakati bahwa tempat mereka berjalan itu bernama tanah, bahwa benda yang tampak jauh di ketinggian sana, yang berwarna biru adalah langit, bahwa ada makhluk lain di dunia selain mereka yang bernama binatang dan tumbuhan, bahwa ada malampu besar yang membuat hari-hari mereka terbelah dalam terang dan gelap, dan bahwa ketika hari siang itu namanya siang dan ketika hari gelap itu namanya malam? Tapi kenapa kemudian kita, anak cucu Adam dan Hawa, bisa punya ribuan kata yang berbeda untuk satu benda? Mengapa kita punya banyak bahasa?

Lalu bagaimana pula cara kakek nenek kita itu mengenal dunia yang mereka huni ini? Berapa luaskah dari bumi ini, yang sekarang dihuni oleh sekitar 6 milyar anak cucunya, yang bisa mereka jangkau?

LUKISAN YANG TAK SELESAI


Thursday, January 13, 2011

MENANGIS KERANA ALLAH

“Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadaNya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).  Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk."  (Al Isra’: 107-109)

“Orang yang beriman itu apabila disebut nama Allah atau dibacakan ayat Qur’an bergetar hatinya.” ( Al-Anfal: 2) 


DALAM Hadist Riwayat Bukhari disampaikan bahwa ada 7 golongan orang yang mendapat naungan Allah di hari Kiamat, salah satunya adalah orang yang menitikan airmatanya karena ingat akan kebesaran Allah [Nota 1].
Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, kemudian beliau meminta salah seorang sahabat Abdillah bin Mas’ud membaca surat An Nisa, hingga sampai surat an Nisa ayat 41:
    ”Maka bagaimanakah (halnya), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).”    
Beliau meminta Abdillah bin Mas’ud menghentikan bacaannya, para sahabat melihat airmata Rasulullah berlinang, beliau menangis.

Aisyah ra menceritakan bahwa ia sering melihat Rasulullah menangis ketika mengerjakan sholat malam, beliau menangis sepanjang sholatnya. 

Wednesday, January 12, 2011

WAKTU-WAKTU YANG MUSTAJAB UNTUK BERDOA (Kajian Hadith)

Allah memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang berbeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. 

Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan tidak berbeda. Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan keselamatan. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain.

SEPERTIGA AKHIR MALAM

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam bersabda yang ertinya

"Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiapmalam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ;barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pastiAku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akanmengampuninya."  [Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150]





ISTIQAMAH DALAM KEIMANAN


 
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian (istiqamah) maka para malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta." (QS. Fushilat : 30-31)  


KEIMANAN yang kuat suatu saat bukanlah awal dan akhir sekaligus. Mengapa? Karena hidup manusia terus berlangsung melalui berbagai dinamikanya. Cobaan, godaan, kesenangan, penderitaan, kesulitan, dan berbagai nuansa kehidupan terus silih berganti menimpa manusia. Oleh karena itu, ada kalanya orang mengawali hari dengan iman, tetapi iman itu luntur di kala siang. Di pagi hari hatinya mantap dengan syariat Allah, namun di waktu asar hatinya telah menyeleweng jauh dari syariat Islam tersebut. Karenanya, ada tantangan setelah iman telah menancap (terpancang), yaitu sikap istiqamah. Ia adalah "Luzum ath-tha'ah (konsistensinya ketaatan)," kata Umar bin Khattab.

Suatu ketika Muadz bin Jabal menghadap Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم dan berkata,

    "Wahai Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam yang saya tidak mendapatkannya dari yang lain." Beliau menjawab, قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
    "Katakan, aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah."
      
Dengan kata lain, yang dituntut bukan hanya sekali menyatakan persaksian iman, akan tetapi harus diikuti dengan sikap konsisten dalam keimanan untuk selama-lamanya. Konsistensi dalam iman, atau sering disebut sebagai sikap istiqamah, merupakan keharusan untuk menunjukkan bahwa keimanan kita telah masuk ke jiwa secara sempurna, bukan hanya ungkapan lisan semata. Allah menolak masyarakat badui (badwi) yang menyatakan telah beriman, sedangkan mereka belum konsisten dalam menegakkan konsekuensi keimanan tersebut.

JANJI ALLAH UNTUK ORANG YANG BERTAQWA


“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Yunus, 10: 62-64) 

PERKATAAN ‘Taqwa’ [1] telah disebut sebanyak 251 kali di dalam banyak surah di dalam Al-Qur’an. Banyaknya ayat-ayat yang menekankan tentang taqwa ini adalah petanda betapa penting taqwa itu disisi Allah. Firman Allah, maksudnya:
    “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.“  (Al-Hujurat : 13)
    “Maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.”   (Ali Imran : 76)

Hasil mujahadah yang tinggi, serius serta istiqamah, Allah mengurniakan kepada kita sifat taqwa. Bermacam-macam kebaikan yang Allah janjikan dalam Al Quran kepada mereka yang memiliki sifat taqwa ini. Ini adalah janji Allah yang pasti tepat dan pasti ditunaikan-Nya. Ia tidak terhingga nilainya yang tidak dapat diukur dengan mana-mana mata wang di dunia ini.

Di antara janji-janji Allah kepada mereka yang memiliki sifat taqwa ini ialah:

MENCARI KHUSYU' DALAM SOLAT


(45) Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,

(46) (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

(Al Baqarah, 2: 45-46) 


ESENSI SHOLAT ADALAH DOA, BERDIALOG DENGAN ALLAH SECARA LANGSUNG
    Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.


SOLAT, TITIK AWAL MENUJU KEBAIKAN
    Solat tak sekadar hubungan pribadi antara manusia dan Allah. Solat mengandung dimensi yang sangat luas. Solat yang khusyuk tak hanya mendekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi juga dapat menjadi daya dorong untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang tertib, saling menolong, senang bekerja keras, dan saling mengingatkan di dalam kebaikan.

DIANTARA ROTI DAN BARA API?

TENTU kita percaya bahwa memberi kail, jauh lebih mendidik dibandingkan dengan memberi ikan. Ungkapan "Berikan kail, bukan ikan!" Itu jika kita berada dalam posisi sebagai 'sang pemberi'. Seandainya anda diposisi 'yang diberi', tentu pilihan kita menjadi bias dan sedikit gengsi  (Eng: prestige, put on airs, esteem, respect, prestige). Saya justru ingin anda menawari opsi (BM: opsyen, pilihan) lain:


Diantara sepotong roti dan sepercik api.

Mana yang akan anda pilih: roti atau api?


APA KEPUTUSAN ANDA?
    Saya tidak akan mencampuri keputusan anda. Namun, sebelum saya membahas lebih lanjut, tentukan pilihan anda: roti atau api? Itu penting bagi anda, karena dalam sejarah umat manusia; ada seorang Nabi besar yang "berurusan dengan roti dan api". Anda ingat siapa orang itu? Ya, dia adalah Nabi Musa alaihissalam.
    Di zaman ketika dia dilahirkan, pembaca bintang meramalkan bahwa Firaun akan dikalahkan oleh bayi laki-laki yang dilahirkan di Bani Israil. Oleh karena itu, Firaun memerintahkan untuk membunuh semua bayi lelaki yang lahir. Sedangkan isteri Firaun, menemukan bayi yang tampan dan segera menyembunyikannya karena tertarik dan agar tak dibunuh Firaun.

    Tentu ketika melihat bayi itu, Firaun memaksa untuk membunuhnya, tapi sang ratu tentu keberatan.

    Sehingga, akhirnya mereka bersepakat untuk melakukan ujian. Dihadapan sang bayi disediakan dua pilihan; roti dan api (terdengar aneh memang). Jika bayi itu memilih api, maka dia akan diij(z)inkan untuk hidup. Tetapi, jika dia memilih roti, maka dia harus mati! (Lihat Nota 1, pengkisahan alternatif pada kisah Firaun, Musa alaihissalam, dan AsIyah)

    Nah, sekarang perhatikan kembali pilihan anda tadi ....

IMAN BUKAN SEPERTI TIKET BUSWAY

SEORANG mukmin hidupnya kadang mirip peladang. Tak pernah lelah membuka lahan (ladang), menanam benih, merawat, menjaga, dan akhirnya menikmati indahnya tanaman yang mulai berbuah. Tapi, jangan pernah menanggalkan parang. Karena dalam kebun juga ada ular, babi hutan, dan anjing liar.

Keimanan merupakan anugerah Allah yang begitu mahal. Hidup yang keras bisa terlalui dengan tenang, nyaman, dan penuh harapan. Sesulit apa pun kehidupan seorang mukmin, ia tetap punya harapan hari esok yang sangat membahagiakan.

Namun, bukanlah iman yang tanpa ujian. Iman bukan sebuah jaminan kalau seorang anak manusia bisa hidup tanpa gangguan. Bukan seperti tiket busway (lorong khas untuk bas) yang bisa memberi jaminan bebas macet (memucut) di saat padatnya lalu lintas kota. Justru, kian melekat nilai keimanan pada diri seseorang, semakin banyak cobaan dan gangguan.