DALAM usaha ke arah taqwa, orang Mukmin digalakkan berkorban pada jalan الله atau disebut Infak fisabilillah. Maksud Infak fisabilillah atau berkorban pada jalan الله mengikut pengertian syariat ialah berbelanja apa yang ada ke jalan yang diredhai oleh الله atau berkorban berhabis-habisan apa yang ada, sama ada harta, wang, tenaga, masa, fikiran hatta nyawa sekalipun semata-mata untuk الله.
Berkorban atau berbelanja pada jalan الله ertinya terpaksa kurangkan harta atau susutkan harta, kurang wang, kurang masa untuk dirinya berehat atau langsung tidak rehat, kurang dapat kasih sayang atau langsung tidak dapat kasih sayang dan bermanja dengan isteri-isteri, suami, anak-anak dan keluarga.
Rumah yang besar jadi kecil atau langsung tidak ada rumah. Yang bisa dapat kasih sayang, sudah tidak dapat lagi. Terpaksa tinggalkan anak-anak, isteri-isteri, suami, ibu ayah, saudara-mara, sahabat-handai, kampung halaman, harta, rumah tangga, tinggal jawatan, kedudukan, ijazah, menara gading dan tinggal segala -galanya kerana diuntukkan segala-galanya tadi buat mencari keredhaan الله.
Showing posts with label TAZKIRAH. Show all posts
Showing posts with label TAZKIRAH. Show all posts
Monday, April 11, 2011
APAKAH SEBENARNYA ‘TAQWA’?
TAQWA bukan setakat melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan الله. Bukan setakat menunai ketaatan dan menjauhkan kemaksiatan. Bukan juga setakat meninggalkan apa yang haram dan menunaikan apa yang fardhu. Bukan setakat menjauhkan yang syirik dengan beramal dan taat kepada الله. Bukan setakat menjauhkan diri dari segala apa yang akan menjauhkan diri kita daripada الله. Bukan setakat menghadkan diri kepada yang halal sahaja dan bukan setakat beramal untuk menjuruskan ketaatan kepada الله semata-mata.


Bila disebut TAQWA, kebanyakkan dari kita memahaminya sebagai takutkan الله. Takut kepada الله hanyalah satu daripada sifat mahmudah yang terangkum dalam sifat TAQWA tetapi ia bukan TAQWA. Takut dalam bahasa Arab ialah khauf atau khasya.
TAQWA berasal dari perkataan waqa–yaqi–wiqoyah yang ertinya memelihara. Hujahnya ialah ayat الْقُرْآنَ seperti berikut:
Bila disebut TAQWA, kebanyakkan dari kita memahaminya sebagai takutkan الله. Takut kepada الله hanyalah satu daripada sifat mahmudah yang terangkum dalam sifat TAQWA tetapi ia bukan TAQWA. Takut dalam bahasa Arab ialah khauf atau khasya.
TAQWA berasal dari perkataan waqa–yaqi–wiqoyah yang ertinya memelihara. Hujahnya ialah ayat الْقُرْآنَ seperti berikut:
GANASNYA SYIRIK!
SYIRIK merupakan dosa paling besar, kezaliman yang paling zalim, dosa yang tidak akan diampuni الله, dan pelakunya diharamkan masuk surga serta seluruh amal yang pernah dilakukannya selama di dunia akan hangus dan sia-sia. Oleh sebab itu mengenal hakikat SYIRIK dan bahayanya adalah perkara yang sangat penting.

الله ta’ala berfirman yang artinya,
الله ta’ala berfirman yang artinya,
- “Wahai umat manusia, sembahlah (الله) Rabb yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia itu lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia pula yang telah menurunkan air hujan dari langit sehingga mampu mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezki untuk kalian maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi الله sedangkan kalian mengetahui.” (Al Baqarah : 21-22)
MERAIH DERAJAT IHSAN
DERAJAT IHSAN merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba. Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba الله yang khusus saja yang bisa mencapai derajat mulia ini. Oleh karena itu, merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu meraihnya. Semoga الله ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk di dalamnya.

Suatu ketika Malaikat Jibril عليه السلام datang di majelis Rasulullah صلی الله علیﻪ و سلم dan para sahabatnya dalam rupa manusia, kemudian menanyakan kepada Rasulullah صلی الله علیﻪ و سلم beberapa pertanyaan. Di antara pertanyaannya adalah tentang makna Islam, Iman, dan IHSAN. Kemudian Rasulullah صلی الله علیﻪ و سلم menjawabnya dan dibenarkan oleh Jibril. Berdasarkan hadist ini [1], para ulama membagi agama Islam menjadi tiga tingkatan yaitu islam, iman, dan IHSAN.
MENJEMPUT BAHAGIA DENGAN TAKWA
TAKWA, singkat namun sarat makna. Betapa sering para khatib menyerukan kepada jama’ah sholat Jum’at setiap pekannya untuk melakukannya. TAKWA, tak hanya mengingatkan kita tentang apa yang seharusnya kita tinggalkan demi mengharapkan ridha-NYA dan karena takut hukuman-NYA. Namun TAKWA juga mengingatkan kita akan kehidupan yang akan dialami manusia setelah kematiannya. Kehidupan yang penuh tanda tanya. Sebab saat ini tidak ada di antara kita yang bisa memastikan akan kemanakah dirinya; ke surga ataukah ke neraka? Sebuah pertanyaan besar yang tersimpan jawabnya di dalam suratan takdir di sisi-NYA.

Saudaraku, menentukan jalan hidup adalah perkara besar yang membuat banyak orang kelimpungan (bingung) dan tak tahu harus ke mana dia melangkah. Padahal, ilham kepada jiwa tak lepas dari dua pilihan fujur (dosa) atau TAKWA. Sebagaimana yang ALLAH تعاﱃ nyatakan dalam ayat (artinya),
- “Maka ALLAH mengilhamkan kepadanya jalan kefajiran dan ketakwaannya.” (asy-Syams [91] : 8)
JALAN YANG LURUS
SEGALA puji bagi ﷲ yang telah menunjukkan JALAN YANG LURUS dan mengangkat hamba terkasih-NYA sebagai pemandu menuju-NYA. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad صلیﷲ علیﻪ و سلم sebaik-baik Nabi dan Utusan, dan juga bagi para sahabat serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Amma ba’du.
Ayat-ayat الْقُرْآنَ yang begitu indah dan menakjubkan, memberikan kepada kita gambaran yang jelas mengenai karakter dan hakikat JALAN YANG LURUS. Jalan yang setiap hari kita mohon kepada ﷲ untuk ditunjuki kepadanya. Jalan yang akan menghantarkan penempuhnya menuju syurga dan kebahagiaan, serta melemparkan orang yang melenceng (BM: menukar arah dengan tiba2. Eng: swerve) darinya menuju neraka dan kesengsaraan

Ayat-ayat الْقُرْآنَ yang begitu indah dan menakjubkan, memberikan kepada kita gambaran yang jelas mengenai karakter dan hakikat JALAN YANG LURUS. Jalan yang setiap hari kita mohon kepada ﷲ untuk ditunjuki kepadanya. Jalan yang akan menghantarkan penempuhnya menuju syurga dan kebahagiaan, serta melemparkan orang yang melenceng (BM: menukar arah dengan tiba2. Eng: swerve) darinya menuju neraka dan kesengsaraan
ﷲ تعاﱃ berfirman (yang artinya),
- “Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.” ( al-Fatihah: 7)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,
- “Dengan ucapan anda ‘Ihdinash shirathal mustaqim’ itu artinya anda telah meminta kepada الله تعاﱃ ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 12)
- “Maka orang yang diberi nikmat atas mereka yaitu orang yang berilmu sekaligus beramal. Adapun orang-orang yang dimurkai yaitu orang-orang yang berilmu namun tidak beramal. Sedangkan orang-orang yang tersesat ialah orang-orang yang beramal tanpa landasan ilmu.” (Tsamrat al-’Ilmi al-’Amalu, hal. 14)
AKU INGIN BERTAUBAT, TETAPI …
“Aku ingin bertaubat hanya saja dosaku terlalu banyak. Aku pernah terjerumus dalam zina. Sampai-sampai aku pun hamil dan sengaja membunuh jiwa dalam kandungan. Aku ingin berubah dan bertaubat. Mungkinkah ﷲ mengampuni dosa-dosaku?!”
Sebagai nasehat dan semoga tidak membuat kita berputus dari rahmat ﷲ, cobalah kita lihat sebuah kisah yang pernah disebutkan oleh Nabi berikut ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran berharga di dalamnya.
- “Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah سبحانا وتعاﱃ ﷲ, maka sembahlah ﷲ bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.” Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada ﷲ”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.” [1]
Monday, March 14, 2011
HIDAYAH MILIK ﷲ
PEMBACA yang semoga dirahmati ﷲ تعاﱃ, mungkin kita sering berfikir, sudah banyak sekali cara kita untuk menyadarkan seseorang yang kita cintai, untuk merubah sifat seseorang yang sangat disayangi. Akan tetapi, segala cara dan upaya kita, ternyata tidak mampu untuk merubahnya menjadi seseorang yang baik. Sebenarnya apa yang salah dengan upaya kita, bagaimanakah caranya agar kita dapat merubah seseorang?
- “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-NYA, dan ﷲ lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al Qashash: 56)
- “ﷲ mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan HIDAYAH, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya.”
Monday, February 14, 2011
WASPADA PINTU MASUK SYAITAN
- "Maka keluarlah kamu dari syurga; sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan." Iblis berkata: "Ya Tuhanku, berilah penangguhan kepadaku sampai hari mereka dibangkitkan." ALLAH berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)." Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. ( Shad: 77-83)
Di antara pintu-pintu dan metode syaitan menyesatkan manusia yang perlu kita waspadai adalah:
Thursday, January 20, 2011
MUSIBAH YANG SEBENAR
YA, itulah musibah yang sebenarnya, apabila kita kehilangan hidayahNya lalu hidup dalam kegelapan dan teraba-raba mencari hakikat diri. Bayangkan kehidupan tanpa hidayah, tanpa keimanan serta keyakinan kepada hari pertemuan dengan Allah سبحانا وتعاﱃ. Manusia yang bagaimanakah agaknya diri kita; tentunya kita tidak takutkan dosa lalu terjun ke dunia kotor dan hina serta hidup bergelumang dosa.
Wednesday, January 12, 2011
MENCARI KARAKTER ISTERI SOLEHAH
- Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir. (Ar-Rum, 30:21)
Ayat-ayat yang digunakan sebagian terkait langsung dengan posisi perempuan sebagai isteri. Sebagian ayat lain tidak terkait langsung dengan posisi perempuan sebagai isteri, akan tetapi bila kita telusuri lebih jauh, ayat-ayat ini berkaitan secara tidak langsung dengan posisi isteri, semisal pengungkapan ayat-ayat terkait kisah Ratu Bilqis pada surat an-Naml atau ayat-ayat yang menggambarkan sifat para bidadari di surga. Insya Allah ayat-ayat ini akan diungkapkan dalam kerangka mengungkapkan karakter isteri sholihah.
Untuk memudahkan pengkajian, penulis mengelompokkan ayat-ayat untuk menggambarkan karakter isteri sholihah dalam tiga profil, yaitu:
PROFIL KEKASIH
PROFIL IBU
PROFIL SAHABAT
Tuesday, January 11, 2011
TIPU DAYA SYAITAN YANG MENYESATKAN
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 21)
Ada 5 pesan bagi orang ber-iman yang terkandung dalam surat An Nur ayat 21 ini yaitu:
- 1. Selalu waspada dan tidak mengikuti bisikan serta pujuk rayu syaitan.
- 2. Syaitan selalu membujuk dan menganjurkan manusia untuk melakukan perbuatan keji dan mungkar.
- 3. Tanpa pertolongan dan rahmat Allah tidak ada satu orangpun yang bisa selamat dari pujuk rayu dan tipu daya syaitan itu.
- 4. Namun demikian Allah menyelamatkan siapa yang dikehendaki dari tipu daya dan bujuk (BM: pujuk) rayu syaitan.
- 5. Allah Maha mendengar dan maha melihat segala sesuatu.
SYAITAN ADALAH MUSUH UTAMA MANUSIA
- Syaitan adalah musuh utama manusia yang selalu mengikuti manusia kemanapun dia pergi. Syaitan selalu membisikan fikiran buruk dan membujuk manusia untuk melakukan perbuatan maksiat, keji dan mungkar, setiap detik syaitan tidak pernah letih dan lelah dalam usahanya menyesatkan manusia. Tidak ada satu orangpun yang bisa lolos (BM: bolos) dari usaha bujukan, rayuan dan tipu daya syaitan ini.
Wednesday, January 5, 2011
MEMBACA KASIH SAYANG ALLAH
SENTIASA MEMBACA HAMPARAN KARUNIA ALLAH YANG TIADA TERHINGGA
Untuk itu, ayat di atas hadir untuk mengingatkan manusia akan kasih sayang Allah سبحانا وتعاﱃ yang memberikan segala yang dibutuhkan, sekaligus merupakan perintah untuk senantiasa membaca karunia tersebut agar tidak termasuk orang yang zalim, apalagi kufur nikmat seperti yang disebutkan di kalimat terakhir ayat tersebut di atas ‘Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim lagi sangat ingkar nikmat.’
Tentu, ayat ini tidak berdiri sendiri seperti juga seluruh ayat-ayat Al-Quran. Setiap ayat memiliki keterkaitan dan korelasi dengan ayat sebelum atau sesudahnya yang menunjukkan wahdatul Qur’an kesatuan dan kesepaduan ayat-ayat الْقُرْآنَ, termasuk ayat di atas ini harus dibaca dengan mengkorelasikannya dengan dua ayat sebelumnya yang menggambarkan sekian banyak dari nikmat Allah سبحانا وتعاﱃ yang harus dibaca dengan penuh kesadaran:
- “Allahlah Yang telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia pula telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim: 32-33)
Ayat yang senada dengan ayat di atas dalam bentuk tantangan Allah kepada seluruh makhluk-Nya sekaligus perintahNya untuk membaca hamparan karunia nikmat-Nya yang tiada terhingga adalah surah An-Nahl: 18
- “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam penutup ayat ini Allah سبحانا وتعاﱃ hadir dengan dua sifat yang merupakan puncak dari kasih sayang-Nya, yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.
KETIDAK BERDAYAAN HAMBA ALLAH DALAM MENGHITUNG DAN BERSYUKUR NIKMAT-NYA
Ibnu Katsir mengungkapkan penafsirannya dalam kitab Tafsir الْقُرْآنَ Al-Azhim bahwa selain dari perintah Allah untuk membaca nikmat Allah, pada masa yang sama merupakan sebuah pernyataan akan ketidak berdayaan hamba Allah سبحانا وتعاﱃ dalam menghitung nikmat-Nya, apalagi menjalankan kesyukuran karenaNya, seperti yang dinyatakan oleh Thalq bin Habib:
- “Sesungguhnya hak Allah sangat berat untuk dipenuhi oleh hamba-Nya. Demikian juga nikmat Allah begitu banyak untuk disyukuri oleh hamba-Nya. Karenanya mereka harus bertaubat siang dan malam.”
LANGKAH-LANGKAH MENSYUKURI NIKMAT ALLAH
Membaca kasih sayang Allah merupakan langkah awal mensyukuri nikmat-Nya. Untuk membuktikan bahwa seseorang telah melakukan syukur nikmat, paling tidak terdapat empat langkah yang harus dipenuhinya:
- Pertama, mengekpresikan kegembiraan dengan kehadiran nikmat tersebut.
- Kedua, mengapresiasikan rasa syukur atas nikmat tersebut dengan ungkapan lisan dalam bentuk pujian.
- Ketiga, membangun komitmen dengan memelihara dan memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Sang Pemberi nikmat.
- Keempat, mengembangkan dan memberdayakannya agar melahirkan kenikmatan yang lebih besar di masa yang akan datang sesuai dengan janji Allah سبحانا وتعاﱃ dalam firman-Nya:
- “Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu.” (Ibrahim: 7) Di sini kesyukuran justru diuji apakah dapat membuahkan kenikmatan yang lain atau malah sebaliknya, menghalangi hadirnya nikmat Allah سبحانا وتعاﱃ dalam bentuk yang lainnya.
PROJEK IBLIS MENGHALANG MANUSIA DARI BERSYUKUR KEPADA ALLAH
- “Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.“ (Al-A’raf: 16-17)
Dalam konteks ini, sungguh usaha dan kerja Iblis tidak main-main. Ia akan memperdaya manusia dari seluruh segmentasi dan celah kehidupannya tanpa terkecuali. Dalam bahasa Prof. Mutawalli Sya’rawi, “Syaitan akan datang kepada manusia dari titik lemahnya (ya’tisy Syaithan min nuqthah dha’f lil insan).” Jika manusia kuat dari aspek harta, maka ia akan datang melalui pintu wanita. Jika ia kuat pada pintu wanita, ia akan datang dari pintu jabatan dan begitu seterusnya tanpa henti. Sehingga akhirnya hanya segelintir manusia yang akan selamat dari bujuk rayu syetan dan menjadi pribadi yang bersyukur.
Allah سبحانا وتعاﱃ pernah berpesan kepada Nabi Daud dan keluarga-Nya agar mewaspadai hal tersebut dalam firman-Nya:
- “Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur).“ (Saba’: 13)
Memang hanya sedikit sekali yang cerdas dan bijak membaca kasih sayang Allah سبحانا وتعاﱃ. Selebihnya adalah manusia yang suka berkeluh kesah, mengeluh dan tidak bersyukur atas karunia nikmat yang ada. Bahkan kerap menyalahkan orang lain, su’uzhan dan berprasangka buruk kepada Allah. Padahal kebaikan dan pahala sikap syukur itu akan kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain. Karenanya ujian kesyukuran itu akan terus menyertai manusia sampai Allah benar-benar tahu siapa yang bersyukur diantara hamba-Nya dan siapa di antara mereka yang kufur.
‘Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang sedikit.‘
Allahu a’lam.
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
:::: 30 Muharram 1432 ::::
[Semua Gambar Adalah Hiasan]
_________________________
Dipetik Dari:
http://www.dakwatuna.com/2009/membaca-kasih-sayang-allah-2/
Shared By Bicara Hidayah
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. “[Al-Ahzab: 56]
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
[Al-Bukhariy/ 4519], [Ibnu Majah/ 904, sahih]
Sunday, January 2, 2011
LA TAHZAN (JANGAN BERSEDIH)
JANGANLAH kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya) jika kamu orang-orang yang beriman. [Surah Ali Imran : Ayat 139]
:::: Asbabul(n) Nuzul ::::
Allah berfirman kepada hamba-hambaNya yang mu’min tatkala mereka mendapat musibah dalam perang Uhud dan gugur tujuh puluh orang di antara mereka sebagai syuhada’, bahawa hal yang serupa telah terjadi pada umat-umat yang sebelum mereka. Para pengikut nabi-nabi yang akhirnya mereka yang beruntung dan orang-orang kafirlah yang binasa. Kerananya Allah memerintahkan hamba-hambaNya mengadakan perjalanan untuk melihat dan menyaksikan bagaimana akibat yang dideritai oleh umat-umat yang mendustakan nabi-nabiNya.
Allah berfirman bahawa di dalam Al-Quran terdapat keterangan sejelas-jelasnya bagi umat manusia,juga mengenai umat-umat yang dahulu. Di samping itu, ia adalah petunjuk dan pencegah dari segala perbuatan dosa dan ma’siat.
Allah سبحانا وتعاﱃ melarang hamba-hambaNya janganlah menjadi lemah dan sedih hati kerana apa yang mereka derita dalam perang Uhud. Sebab kemenangan terakhir adalah bagi orang yang mu’min. Dan jika mereka telah mendapat luka-luka dan banyak yang gugur dalam perang Uhud, maka hal yang serupa telah dialami pula oleh musuh-musuh mereka dalam perang Badar. Dan memang demikianlah sunnah Allah yang menggilirkan kehancuran dan kejayaan di antara manusia.
10 LANGKAH MENJEMPUT REZEKI
Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menjemput rezeki. Berikut sepuluh diantaranya..
1. TAQWA
2. TAWAKAL
Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda:
3. SHALAT
Firman Allah dalam hadis qudsi:
4. ISTIGHFAR
1. TAQWA
- “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3)
2. TAWAKAL
Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda:
- “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)
3. SHALAT
Firman Allah dalam hadis qudsi:
- “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya.” (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)
4. ISTIGHFAR
- “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS Nuh: 10-12)
Saturday, January 1, 2011
KIASAN AL-QURAN MENUSUK JIWA INSAN IKHLAS
Namun, ada yang tidak mahu mengakui kelemahan diri yang tersindir oleh ayat الْقُرْآنَ. Padahal kiasan dan ulasan الْقُرْآنَ begitu menusuk ke jantung hati orang yang ikhlas.
Jika ditanya bilakah agaknya anda tidak berminat lagi dengan apa-apa pun melainkan berfikir mengenai akhirat? Sudah tentu ketika dada anda memeluk الْقُرْآنَ, hati mengimani dan emosi mengikut petunjuknya.
Umar al-Khatab menceritakan detik bersejarah runtuhnya tembok kekufuran oleh hembusan hidayah yang dihantar الْقُرْآنَ ke jiwanya. Umar berkata ketika dia masih kafir lagi:
- “Aku harus pergi ke Kaabah untuk melakukan tawaf tujuh atau 70 kali. Lalu aku pun datang ke sana untuk melakukan tawaf, aku melihat ﺮﺴﻮل ﷲ sedang berdiri melakukan sembahyang, saat itu Baginda solat menghadap ke Syam (Baitulmaqdis) dan Baginda menjadikan Kaabah di antara dirinya dan negeri Syam. Baginda berdiri di antara rukun Hajarul Aswad dan rukun Yamani. Aku berkata dalam hati saat aku melihatnya: Demi Allah, jika malam ini aku mendengar apa yang dibaca oleh محمدا . Jika aku sudah mendekatinya dan mendengarkan apa yang dibaca pasti aku akan mengejutkannya! Aku pun menghampirinya dari balik al-Hajar dan masuk ke dalam kain Kaabah, tidak ada jarak antara diriku dan محمدا melainkan hanya dibatasi kain Kaabah saja. Saat aku mendengar الْقُرْآنَ, hatiku mencair sehingga membuat aku menangis, sejak saat itu aku beriman.” (Kata Ata’ dan Mujahid yang dikutip oleh Ibnu Ishaq daripada Abdullah bin Abi Najih)
PENGHAYATAN BERGANTUNG KEPADA TAFSIRAN DAN KEFAHAMAN
Bagaimanapun, di kalangan orang ‘ajam yang tidak memahami bahasa Arab seperti kita, ramai lebih mementingkan lagu dan irama padahal ilmu tafsir الْقُرْآنَ sepatutnya mestilah lebih diutamakan.
Bagaimanakah bacaan itu boleh dinikmati tanpa sebarang penghayatan? Sedangkan penghayatan bergantung kepada tafsiran dan kefahaman. Tak hairan apabila kita membaca tetapi tidak menjiwai bacaan itu. Ia membuat diri kita kehilangan petunjuknya.
Tujuan memahami tafsir الْقُرْآنَ ialah untuk mencengkam jiwa dengan teguran dan ajarannya, membentuk ilustrasi positif yang menyuntik semangat iman, mendapat inspirasi reda dan sabar ketika diuji. Mendekatkan diri kepada Allah dengan ayat peringatan, suruhan, larangan, pujian dan janji Allah, syurga dan neraka, khabar gembira dan ancaman seksa-Nya.
Ketika seseorang sudah mencapai kefahaman sempurna mengenai tafsir الْقُرْآنَ, tidak mungkin dia tertawa ketika membaca ayat seksa atau lalai ketika membaca ayat amaran kerana tujuan الْقُرْآنَ diturunkan ialah untuk mencengkam jiwa manusia yang lalai. Supaya ingat jalan pulang ke sisi Tuhannya dan jangan tersesat kerana tidak menggenggam petunjuk yang dibekalkan melalui الْقُرْآنَ.
Sudah selayaknya orang ‘ajam bukan Arab yang tidak memahami bahasa الْقُرْآنَ bertungkus-lumus menjejaki rahsia Allah melalui kalam-Nya yang mulia dengan mempelajari tafsir الْقُرْآنَ. Siapa kata usaha belajar tafsir hanyalah membazir masa dan wang ringgit? Orang yang berkata sebegini sememangnya tidak memahami betapa agungnya getaran jiwa pernah dirasai Saidina Umar bin al-Khattab.
MEMILIH AJARAN LAIN DAN MENINGGALKAN الْقُرْآنَ
| 28 May 2008, Dongguan, Xining, Qinghai, |
Allah tidak pernah melarang manusia menikmati kurniaan dianugerahkan-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya. Hanya manusia seharusnya ingat tabiat mereka yang mudah dijangkiti kelalaian apabila dibukakan pintu dunia seluas-luasnya. Ayat Allah semakin dipinggirkan, dijual pada harga murah bahkan disembunyikan untuk kepentingan diri dan golongan tertentu.
Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya yang bermaksud:
- “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Kami berikan kepadanya ayat Kami (pengetahuan mengenai isi الْقُرْآنَ), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan darjatnya dengan ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaan seperti anjing jika kamu menghalaunya dihulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menghulurkan lidahnya (juga). Yang demikian itu adalah perumpamaan orang yang mendustakan ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah itu supaya mereka berfikir.” (Surah al-A’raf, ayat 175-176)
Sikap orang Yahudi membaca Kitab Taurat tetapi tergamak mencari hukum lain yang lebih sesuai dengan kemahuan nafsu mereka untuk dijadikan landasan hidup. Inilah sikap dimurkai Allah.
Suatu hari seorang Yahudi meminta ﺮﺴﻮلﷲ صلیﷲ علیﻪ و سلم menghukum ahli keluarganya yang berzina mengikut hukuman الْقُرْآنَ. Dia sengaja melakukan perkara itu dengan harapan hukum الْقُرْآنَ lebih ringan daripada hukum Taurat. Selepas ﺮﺴﻮلﷲ صلیﷲ علیﻪ و سلم menegaskan bahawa الْقُرْآنَ juga menjatuhkan hukuman rejam sama seperti dalam Taurat, bangsawan Yahudi itu langsung berpaling dengan bongkak, nyata sekali mereka tidak akan pernah mengikuti mana-mana kitab Allah.
MEMPERGUNA الْقُرْآنَ DEMI KEPINTANGAN DIRI
Sistem akidah, ibadah, jenayah dan muamalat tidak mungkin dipisah, semua sistem buatan manusia seperti sistem ekonomi, politik, pendidikan, sosial dan kenegaraan sudah tersusun rapi dalam الْقُرْآنَ sejak berabad lamanya.
Alangkah sedihnya apabila orang Islam hanya tahu beriman dengan الْقُرْآنَ setakat malam Jumaat pada majlis membaca Yasin, ketika kematian ahli keluarga atau ketika membuka kedai barunya (menggantung ayat الْقُرْآنَ sebagai azimat dan tangkal).
Sementara itu akhlaknya tidak mengikuti petunjuk الْقُرْآنَ, ibadahnya menyalahi aturan الْقُرْآنَ, perniagaannya mengamalkan riba dan penipuan, imej dan tutur katanya tidak mewakili kesopanan tatacara الْقُرْآنَ, pemikirannya diracuni fahaman orang kafir yang bertentangan dengan الْقُرْآنَ. Seolah-olah dengan bangga mereka berkata: “Ambillah الْقُرْآنَ jika ia menguntungkan kamu, jika tidak tinggalkan saja.”
Padahal ﺮﺴﻮلﷲ صلیﷲ علیﻪ و سلم diberi gelaran sebagai ‘الْقُرْآنَ yang berjalan’. Mereka ini sepatutnya diberi gelaran juga iaitu ‘pemanipulasi الْقُرْآنَ’.
Ya Allah tundukkanlah hati kami dengan الْقُرْآنَ.
:::: Sabtu, 27, Muharram 1432 ::::
Semua Gambar Adalah Hiasan
____________________________________
Dipetik Dari:
http://drjuanda.protajdid.com/?p=15
Shared By Bicara Hidayah
INILAH JALAN YANG LURUS
Permohonan yang telah kita ajukan entah berapa ratus bahkan beribu-ribu kali kepada Allah سبحانا وتعاﱃ Bayangkan, jika kita kini berusia 40 tahun dan mula mengerjakan solat sejak akil baligh (sekitar usia 15 tahun), bermakna kita telah memohon jalan yang lurus sejumlah 155,125 kali!
Apakah status permohonan kita itu? Adakah Allah mensia-siakan permohonan yang diajukan sebanyak dan sekerap itu? Atau adakah kita yang mensia-siakan jawapan yang telah diberikan Allah? Namun yang pasti, Allah tidak akan mensia-siakan doa hamba-Nya berdasarkan firman-Nya yang bermaksud:
- “Berdoalah nescaya akan Aku memperkenankan.” (Surah Ghafir, 40: 60)
Dalam hubungan sesama manusia kita biasa dengan ungkapan, “When you ask, listen!” Maksudnya bila kita meminta suatu pandangan, nasihat atau tunjuk ajar, maka dengarlah jawapannya, yakni pandangan atau nasihat yang kita minta itu. Jadi amat tidak wajar kita hanya sering meminta nasihat, namun apabila telah diberikan, kita mensia-siakan atau tidak mendengarnya.
Begitulah dalam hubungan dengan Allah, kerap berlaku situasi sedemikian. Kita sering meminta kepada-Nya dalam doa dan solat kita, tetapi apabila telah ditunjukkan, kita sendiri yang tuli dan mensia-siakannya.
Inilah yang berlaku apabila kita memohon ditunjuki jalan yang lurus. Jawapan dari Allah tidak kita dengari. Jalan yang ditunjukkan-Nya tidak kita ikuti. Teladan yang ditetapkan kita pinggirkan. Mengapa ini terjadi?
TANDA PENCIPTA MENCINTAI MANUSIA
Begitulah cinta Allah kepada hamba-Nya. Maha Agung dan Perkasa itu mengisytiharkan kedudukannya yang amat dekat kepada hamba-Nya. Firman Allah bermaksud:
- “Dan apabila hamba-Ku bertanya mengenai Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku memakbulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia meminta kepada-Ku.” (Surah al-Baqarah, ayat 186)
Ada beberapa tanda yang boleh dirasa oleh hati manusia antaranya:
PERJALANAN YANG PANJANG
Tiap tahap ditempuh dalam waktu yang berbeda mulai dari hitungan beberapa bulan hingga ribuan tahun.
1. ALAM RUH
Perjalanan hidup manusia dimulai dari alam ruh ketika Allah mengumpulkan sekalian ruh manusia yang akan diturunkan kebumi dan berfirman: ” Bukankah Aku ini Tuhanmu “, Kemudian para ruh menjawab:
- “Betul Engkaulah Tuhan Kami ... “ Kejadian ini dikisahkan dalam Surah Al-A’Raaf , ayat 172:
- "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Al-A’Raaf: 172)
MENCARI KETENANGAN HATI
- “ .. ketika saya dihimpit hutang, jatuh sakit, dicerca dan difitnah, saya pun berzikir. Saya ucapkan subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar beratus-ratus malah beribu-ribu kali tetapi mengapa hati tidak tenang juga?”
ZIKIR YANG BERKESAN MELIBATKAN TIGA DIMENSI
Zikrullah hakikatnya bukan sekadar menyebut atau menuturkan kalimah. Ada bezanya antara berzikir dengan “membaca” kalimah zikir. Zikir yang berkesan melibatkan tiga dimensi – dimensi lidah (qauli), hati (qalbi) dan perlakuan (fi’li). Mari kita lihat lebih dekat bagaimana ketiga-tiga dimensi zikir ini diaplikasikan.
- Dimensi Pertama - Zikir Lidah (Qauli)
- Katalah lidah kita mengucapkan “subhanallah” – ertinya Maha Suci Allah. Itu zikir qauli.
- Dimensi Kedua - Zikir Hati (Qalbi)
- Namun, pada masa yang sama hati hendaklah merasakan Allah itu Maha Suci pada zat, sifat dan af’al (perbuatannya). Segala ilmu yang kita miliki tentang kesucian Allah hendaklah dirasai bukan hanya diketahui. Allah itu misalnya, suci daripada sifat-sifat kotor seperti dendam, khianat, prasangka dan sebagainya.
Jika seorang hamba yang berdosa bertaubat kepada-Nya, Allah bukan sahaja mengampunkannya, malah menghapuskan catatan dosa itu, bahkan menyayangi dan memberi “hadiah” kepadanya. Firman Allah:


