Showing posts with label MUQARRABIN. Show all posts
Showing posts with label MUQARRABIN. Show all posts

Wednesday, January 26, 2011

YANG PALING BANYAK BERISTIGHFAR DAN BERTAUBAT


RASUL
dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristighfar dan bertaubat padahal beliau adalah orang yang telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah,
    إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا  
    “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus.” (Qs. Al Fath: 1-2)


Dalam kitab shohih, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ . يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا 
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat sehingga kakinya pecah-pecah. Kemudian aku mengatakan kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini padahal engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (HR. Muslim no. 7304)

Thursday, January 13, 2011

MENANGIS KERANA ALLAH

“Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadaNya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).  Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk."  (Al Isra’: 107-109)

“Orang yang beriman itu apabila disebut nama Allah atau dibacakan ayat Qur’an bergetar hatinya.” ( Al-Anfal: 2) 


DALAM Hadist Riwayat Bukhari disampaikan bahwa ada 7 golongan orang yang mendapat naungan Allah di hari Kiamat, salah satunya adalah orang yang menitikan airmatanya karena ingat akan kebesaran Allah [Nota 1].
Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, kemudian beliau meminta salah seorang sahabat Abdillah bin Mas’ud membaca surat An Nisa, hingga sampai surat an Nisa ayat 41:
    ”Maka bagaimanakah (halnya), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).”    
Beliau meminta Abdillah bin Mas’ud menghentikan bacaannya, para sahabat melihat airmata Rasulullah berlinang, beliau menangis.

Aisyah ra menceritakan bahwa ia sering melihat Rasulullah menangis ketika mengerjakan sholat malam, beliau menangis sepanjang sholatnya. 

Wednesday, January 12, 2011

WAKTU-WAKTU YANG MUSTAJAB UNTUK BERDOA (Kajian Hadith)

Allah memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang berbeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. 

Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan tidak berbeda. Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan keselamatan. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain.

SEPERTIGA AKHIR MALAM

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam bersabda yang ertinya

"Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiapmalam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ;barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pastiAku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akanmengampuninya."  [Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150]





ISTIQAMAH DALAM KEIMANAN


 
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian (istiqamah) maka para malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta." (QS. Fushilat : 30-31)  


KEIMANAN yang kuat suatu saat bukanlah awal dan akhir sekaligus. Mengapa? Karena hidup manusia terus berlangsung melalui berbagai dinamikanya. Cobaan, godaan, kesenangan, penderitaan, kesulitan, dan berbagai nuansa kehidupan terus silih berganti menimpa manusia. Oleh karena itu, ada kalanya orang mengawali hari dengan iman, tetapi iman itu luntur di kala siang. Di pagi hari hatinya mantap dengan syariat Allah, namun di waktu asar hatinya telah menyeleweng jauh dari syariat Islam tersebut. Karenanya, ada tantangan setelah iman telah menancap (terpancang), yaitu sikap istiqamah. Ia adalah "Luzum ath-tha'ah (konsistensinya ketaatan)," kata Umar bin Khattab.

Suatu ketika Muadz bin Jabal menghadap Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم dan berkata,

    "Wahai Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam yang saya tidak mendapatkannya dari yang lain." Beliau menjawab, قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
    "Katakan, aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah."
      
Dengan kata lain, yang dituntut bukan hanya sekali menyatakan persaksian iman, akan tetapi harus diikuti dengan sikap konsisten dalam keimanan untuk selama-lamanya. Konsistensi dalam iman, atau sering disebut sebagai sikap istiqamah, merupakan keharusan untuk menunjukkan bahwa keimanan kita telah masuk ke jiwa secara sempurna, bukan hanya ungkapan lisan semata. Allah menolak masyarakat badui (badwi) yang menyatakan telah beriman, sedangkan mereka belum konsisten dalam menegakkan konsekuensi keimanan tersebut.

JANJI ALLAH UNTUK ORANG YANG BERTAQWA


“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Yunus, 10: 62-64) 

PERKATAAN ‘Taqwa’ [1] telah disebut sebanyak 251 kali di dalam banyak surah di dalam Al-Qur’an. Banyaknya ayat-ayat yang menekankan tentang taqwa ini adalah petanda betapa penting taqwa itu disisi Allah. Firman Allah, maksudnya:
    “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.“  (Al-Hujurat : 13)
    “Maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.”   (Ali Imran : 76)

Hasil mujahadah yang tinggi, serius serta istiqamah, Allah mengurniakan kepada kita sifat taqwa. Bermacam-macam kebaikan yang Allah janjikan dalam Al Quran kepada mereka yang memiliki sifat taqwa ini. Ini adalah janji Allah yang pasti tepat dan pasti ditunaikan-Nya. Ia tidak terhingga nilainya yang tidak dapat diukur dengan mana-mana mata wang di dunia ini.

Di antara janji-janji Allah kepada mereka yang memiliki sifat taqwa ini ialah:

LEBURLAH DOSA DENGAN TAUBAT YANG TULUS

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih” (QS.15 Al Hijr 49-50)  

SETIAP
hamba pasti pernah terjerumus dalam dosa bahkan juga dosa besar. Mungkin ada yang sudah terjerumus dalam kelamnya zina, pembunuhan dan minum minuman keras (khomr). Tentu saja dosa ini bukan dibiarkan begitu saja tanpa disesali. Dosa tersebut tentu saja patut ditaubati dengan taubat yang tulus.

Sebuah hadits yang patut jadi renungan, Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta'ala berfirman:

    ”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi no. 3540. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)  


JIKA BERTAUBAT, SETIAP DOSA AKAN DIAMPUNI

    Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah benar-benar Maha Pengampun. Setiap dosa –baik dosa kecil, dosa besar, dosa syirik bahkan dosa kekufuran- bisa diampuni selama seseorang bertaubat sebelum datangnya kematian. Allah Ta’ala berfirman:

    “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).  

Monday, January 10, 2011

SOLAT SUNNAH TAUBAT

KITA sebagai manusia biasa tidak terlepas daripada melakukan pelbagai kesilapan. Dan adakalanya mungkin terjerumus ke dalam persoalan yang dilarang, yang mengakibatkan dosa, atau perkara yang dibenci oleh Allah سبحانا وتعاﱃ   Oleh itu Allah سبحانا وتعاﱃ  dengan sikapnya yang Maha Pengasih, dan Maha Pengampun sentiasa memberikan ruang kepada hambanya untuk kembali kepada fitrah dan membersihkan diri dari pelbagai kesilapan, ketergelinciran dan kesalahan.

    “Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.”[1] (Surah Ali Imran, 3: 131)

KAEDAH MEMELIHARA DIRI DARI API NERAKA


Antara cara dan kaedah memelihara diri daripada ancaman api neraka Allah, menurut Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di di dalam tafsirnya terhadap ayat tersebut adalah:
    “Dengan cara meninggalkan hal-hal yang menjerumuskan ke dalamnya, berupa kekufuran dan kemaksiatan khususnya kemaksiatan yang besar, yang akan mengheret kepada kekufuran, bahkan ia merupakan sifat dari kekufuran yang telah Allah siapkan neraka bagi pelaku-pelakunya.

Maka meninggalkan kemaksiatan akan menyelamatkan dari api neraka dan menjaga diri dari kemurkaan Yang Mahakuasa.   Sedang perbuatan-perbuatan yang baik dan berbentuk ketaatan membuahkan redha Allah, ganjaran Syurga, dan memperolehi rahmat.” (Tafsir as-Sa’di, jil. 1, m/s. 545)

Di dalam ayat yang lain, Allah سبحانا وتعاﱃ  berfirman:
    “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?  Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Surah Ali Imran, 3: 135)

Dalam menafsirkan surah Ali Imran ayat 135, Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di menyatakan,
    “Telah terjadi perbuatan-perbuatan buruk yang besar atau yang kecil yang dilakukan oleh mereka, lalu mereka segera bertaubat dan meminta ampunan, mereka mengingat Rabb mereka dan ancaman-Nya bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan apa yang dijanjikan bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan apa yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa.  Maka mereka memohon ampunan pada-Nya atas dosa-dosa mereka itu, menutup aib-aib mereka, di samping mereka meninggalkan hingga akar-akarnya dan menyesal atasnya.  Kerana itulah Allah berfirman, Maksudnya: “dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.” (Tafsir as-Sa’di, jil. 1, m/s. 547-548)



ANTARA CARA MEMULAKAN TAUBAT


 
Oleh itu, antara cara untuk memulakan taubat adalah pertamanya dengan segera meninggalkan perbuatan keji/maksiat yang tersebut dan berusaha untuk tidak mengulanginya.  Dianjurkan juga untuk melaksanakan solat sunnah taubah/taubat.

Sebagaimana menurut ke-empat-empat mazhab, solat sunnah atas sebab bertaubat dari dosa adalah dianjurkan. (Rujuk Ibnu ‘Abidin, 1/462, ad-Dasuqi, 1/314, Asna al-Muthakib, dan Kasyaf al-Qanna’, 1/443. Dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah, jil. 2, m/s. 95)

Hal ini, adalah sebagaimana berdasarkan hadis berikut:

Dari Asma’ bin al-Hakam al-Fazari, dia menjelaskan:
    Aku pernah mendengar ‘Ali Radhiallahu anhu berkata: “sesungguhnya aku adalah seorang yang jika mendengar sebuah hadis dari Rasulullah, Allah akan memberiku manfaat dari hadis tersebut bersesuaian dengan kehendak-Nya.  Jika ada seseorang dari sahabatnya menyampaikan hadis, aku akan memintanya bersumpah.  Jika dia mahu bersumpah kepadaku, aku akan membenarkannya.  Sesungguhnya Abu Bakar telah memberitahuku, dia menyatakan dia pernah mendengar Rasulullah bersabda, (Maksudnya): “Tidaklah seseorang melakukan sesuatu perbuatan dosa lalu dia bangun (bangkit) dan bersuci kemudian mengerjakan solat dan memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya.  Kemudian beliau membaca ayat (Maksudnya), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Surah Ali Imran, 3: 135)”.” (Diriwayatkan oleh at-Timidzi dalam Kitab Solat, no. 406. Abu Daud, Kitab al-Witr, no. 1521.  Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Kitab Shahihnya, 2/389-390.  Dinilai Sahih oleh Sheikh al-Albani di dalam Kitab Shahih Sunan Abi Daud, 1/283)

Menurut Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah,
    “Solat taubat ini boleh dilakukan/dilaksanakan bila-bila masa sahaja, walaupun di dalam waktu-waktu yang dilarang mengerjakan solat, kerana taubat ini adalah wajib dilakukan dengan segera, dan pelakunya disunnahkan (dituntut) untuk mengerjakan (solat) dua rakaat.” (Fatawa Sheikhul Islam, 23/215)


KESIMPULAN

Maka, bagi mereka yang bertaubat atau ingin bertaubat, dianjurkan (disunnahkan) untuk melaksanakan sebagaimana yang ditunjukkan melalui hadis tersebut, iaitu dengan melakukan solat sunnah sebanyak dua rakaat dan kemudiannya memohon keampunan kepada Allah.

Wallahu a’lam.


:::: 6 Sya'ban 1431 ::::
<>

_______________________________
Rujukan:

1 – Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an & Sunnah (Judul Asli: Sholaatul Mu’min Mafhuum wa Fadhaa’il wa Adab wa Anwaa’ wa Ahkam wa Kaifiyyah fii Dhau’il Kitab was Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani), Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i.

2 – Shahih Fiqih Sunnah (Judul Asli: Shahih fiqh as-Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Mazahib al-A’immah, oleh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim), Terbitan Pustaka at-Tazkia.

3 – Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah s.a.w. (Judul Asli: Bughyatul Mutathawwi’ fii Shalaatit Tathawwu’, oleh Sheikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul), Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i.

4 – Tafsir as-Sa’di (Judul Asli: Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, oleh Sheikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di), Terbitan Pustaka Sahifa.

[1]  Kafir’ Tidak Dengan Sendirinya Berarti Orang Yang Tidak Beragama Islam. Definisi qur’aniyyah dari kata ‘orang kafir’, bisa kita temukan di surat Al-Kahfi ayat 100 dan 101.
Q.S. 18:100, “dan Kami tampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir (Al-Kafiriin) dengan jelas.”
Q.S. 18:101, “yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari ‘zikri’ (diterjemahkan di terjemahan qur’an bahasa Indonesia dengan kata ‘memperhatikan’) terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.”

Dari dua ayat di atas, kita dapatkan definisi qur’aniyyah dari kata ‘kafir’. Al-Kafiriin, atau orang-orang kafir, adalah mereka yang matanya tertutup dari ‘zikri’ terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, dan telinganya tidak sanggup mendengar.
Jika demikian, mata dan telinga mana yang tertutup? Jawabannya bisa kita dapatkan pada Al-Qur’an surat Al-Hajj (22) ayat 46.

Q.S. 22:46, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qalb-qalb mereka (quluubun) yang ada di dalam dada.”

Dari definisi Qur’an tersebut, yang disebut ‘kafir’ bukanlah orang yang berbeda agama. Yang disebut kafir adalah mereka yang mata dan telinga qalb di dalam dadanya tidak berfungsi. Asal kata ‘kafir’ dan ‘kufur’ adalah ‘kafara’ yang artinya ‘tertutup’ (kata ini jkemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘cover’ artinya penutup). ‘Kafir’ adalah mereka masih yang tertutup dari ‘Al-Haqq’ (kebenaran mutlak).

Definisi kafir itu luas dan tidak dibincang disini dengan detail.
___________________________________

Dipetik dengan sedikit tambahan pada nota kaki:

http://al-qayyim.net/index.php?option=com_content&task=view&id=768&Itemid=75

Shared by Bicara Hidayah

DAKWAH - DOA BERI KEKUATAN PERTAHAN HIDAYAH

MENUNTUT ilmu adalah suatu kefarduan kepada setiap individu Islam. Ini bertitik tolak daripada kepentingan ilmu dalam hidup manusia. Hal ini secara jelas dinyatakan dalam banyak ayat al-Quran mahupun hadis Rasulullah.


KAITAN HIDAYAH DENGAN ILMU; DOA
    Petunjuk atau hidayah mempunyai kaitan rapat dengan ilmu dan doa dalam proses perjalanan seorang hamba mendapat reda daripada tuhannya. Dengan sebab itu hidayah tidak akan diperoleh begitu saja melainkan ia perlu diusahakan dan pada masa sama ia juga adalah anugerah Allah hanya akan diberikan kepada sesiapa dikehendaki-Nya saja. Abu Talib, bapa saudara Nabi Muhammad mengetahui Islam dibawa anak saudaranya bukan agama menyesatkan manusia, tetapi petunjuk Allah masih belum singgah meresap ke dalam hatinya untuk memeluk agama Islam. Lantaran itu beliau hanya bertindak mempertahankan Nabi Muhammad daripada ancaman bahaya golongan kafir Quraisy yang menyerang baginda sama ada dari sudut fizikal mahupun mental. Akhirnya Abu Talib meninggal dunia dalam keadaan masih berpegang dengan agama Abdul Mutalib. Memang benarlah firman Allah dalam al-Quran: 
    “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang kamu kasih tetapi hanya Allah akan memberi petunjuk kepada sesiapa yang Dia kehendaki” (Surah Al-Qasas ayat 56) 
   

Sunday, January 9, 2011

MASUK SURGA TANPA HISAB

ORANG yang masuk surga ada 3 macam, yaitu:
  • Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya),
  • Masuk surga setelah dihisab, dan
  • Masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka.

Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.


Wednesday, January 5, 2011

SABAR DAN صلاة (SOLAT) SEBAGAI PENOLONG

“Jadikanlah sabar dan
صلاة sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”   (Al-Baqarah: 45-46)

IBNU
Katsir menjelaskan satu prinsip dan  kaedah dalam memahami الْقُرْآنَ berdasarkan ayat ini bahwa meskipun ayat ini bersifat khusus ditujukan kepada Bani Israel karena konteks ayat sebelum dan sesudahnya ditujukan kepada mereka, namun secara esensi bersifat umum ditujukan untuk mereka dan selain mereka. Bahkan setiap ayat الْقُرْآنَ, langsung atau tidak langsung sesungguhnya lebih diarahkan kepada orang-orang yang beriman, karena hanya mereka yang mahu dan siap menerima pelajaran dan petunjuk apapun dari Kitabullah.

Maka peristiwa yang diceritakan Allah سبحانا وتعاﱃ tentang Bani Israel, terkandung di dalamnya perintah agar orang-orang yang beriman mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialami mereka. Begitulah kaedah dalam setiap ayat الْقُرْآنَ sehingga kita bisa mengambil bahagian dari setiap ayat Allah سبحانا وتعاﱃ. “Al-Ibratu Bi’umumil Lafzhi La Bikhusus sabab ” (Yang harus dijadikan dasar pedoman dalam memahami الْقُرْآنَ adalah umumnya lafazh, bukan khususnya sebab atau peristiwa yang melatarbelakanginya).

Perintah dalam ayat di atas sekaligus merupakan solusi agar umat secara kolektif bisa mengatasi dengan baik segala kesulitan dan problematika yang datang silih berganti. Sehingga melalui ayat ini, Allah memerintahkan agar kita memohon pertolongan kepada-Nya dengan senantiasa mengedepankan sikap sabar dan menjaga صلاة dengan istiqamah. Kedua hal ini merupakan sarana meminta tolong yang terbaik ketika menghadapi berbagai kesulitan. رسول الله وسلم علي ﷲ صلى selaku uswah hasanah, telah memberi contoh yang konkrit dalam mengamalkan ayat ini. Di dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dijelaskan bahwa,
    “Sesungguhnya رسول الله وسلم علي ﷲ صلى   apabila menghadapi suatu persoalan, beliau segera mengerjakan صلاة“
Huzaifah bin Yaman menuturkan,
    “Pada malam berlangsungnya perang Ahzab, saya menemui رسول الله وسلم علي ﷲ صلى  , sementara beliau sedang صلاة seraya menutup tubuhnya dengan jubah. Bila beliau menghadapi persoalan, maka beliau akan mengerjakan صلاة“
Bahkan Ali bin Abi Thalib menuturkan keadaan رسول الله وسلم علي ﷲ صلى   pada perang Badar,
    “Pada malam berlangsungnya perang Badar, semua kami tertidur kecuali رسول الله, beliau صلاة dan berdo’a sampai pagi“

Dalam riwayat Ibnu Jarir dijelaskan bagaimana pemahaman sekaligus pengamalan sahabat رسول الله وسلم علي ﷲ صلى  terhadap ayat ini. Diriwayatkan bahwa ketika Ibnu Abbas melakukan perjalanan, kemudian sampailah berita tentang kematian saudaranya Qatsum, ia langsung menghentikan kendaraanya dan segera mengerjakan صلاة dua raka’at dengan melamakan duduk. Kemudian ia bangkit dan menuju kendaraannya sambil membaca, “Jadikanlah sabar dan صلاة sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’“
Secara khusus untuk orang-orang yang beriman, perintah menjadikan sabar dan صلاة sebagai penolong ditempatkan dalam rangkaian perintah dzikir dan syukur.
    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan صلاة sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah سبحانا وتعاﱃ senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar“. (Al-Baqarah: 152-153)
Dalam kaitan dengan dzikir, menjadikan sabar dan صلاة sebagai penolong adalah dzikir. Siapa yang berdzikir atau mengingat Allah dengan sabar, maka Allah akan mengingatnya dengan rahmat.


BEBAN BERAT AKAN JADI RINGAN JIKA DIIRINGI DENGAN SABAR DAN صلاة


Masih dalam konteks orang yang beriman, sikap sabar yang harus selalu diwujudkan adalah dalam rangka menjalankan perintah-perintah Allah سبحانا وتعاﱃ, karena beban berat yang ditanggungnya akan terasa ringan jika diiringi dengan sabar dan صلاة.

Ibnul Qayyim mengkategorikan sabar dalam rangka menjalankan perintah Allah Taala termasuk sabar yang paling tinggi nilainya dibandingkan dengan sabar dalam menghadapi musibah dan persoalan hidup.

Syekh Sa’id Hawa menjelaskan dalam tafsirnya, Asas fit Tafasir kenapa sabar dan صلاة sangat tepat untuk dijadikan sarana meminta pertolongan kepada Allah سبحانا وتعاﱃ. Beliau mengungkapkan bahwa sabar dapat mendatangkan berbagai kebaikan, sedangkan صلاة dapat mencegah dari berbagai perilaku keji dan munkar, disamping juga صلاة dapat memberi ketenangan dan kedamaian hati. Keduanya (sabar dan صلاة) digandingkan dalam kedua ayat tersebut dan tidak dipisahkan, karena sabar tidak sempurna tanpa صلاة, demikian juga صلاة tidak sempurna tanpa diiringi dengan kesabaran. Mengerjakan صلاة dengan sempurna menuntut kesabaran dan kesabaran dapat terlihat dalam صلاة seseorang.

 Lebih terprinci (rinci), Syekh Sa’id Hawa menjelaskan sarana lain yang terkait dengan sabar dan صلاة yang bisa dijadikan penolong. Puasa termasuk ke dalam perintah meminta tolong dengan kesabaran karena puasa adalah separuh dari kesabaran. Sedangkan membaca Al-Fatihah dan doa termasuk ke dalam perintah untuk meminta tolong dengan صلاة karena Al-Fatihah itu merupakan bahagian dari صلاة, begitu juga dengan do’a.

Memohon pertolongan hanya kepada Allah merupakan ikrar yang selalu kita lafazkan dalam setiap صلاة kita, “Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami mohon pertolongan“. Agar permohonan kita diterima oleh Allah, tentu harus mengikuti tuntunan dan petunjuk-Nya. Salah satu dari petunjuk-Nya dalam memohon pertolongan adalah dengan sentiasa bersikap sabar dan memperkuat hubungan yang baik dengan-Nya dengan menjaga صلاة yang berkualitas. Disinilah صلاة merupakan cerminan dari penghambaan kita yang tulus kepada Allah.


ESENSI SABAR


Esensi sabar menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dapat dilihat dari dua hal:
  • Pertama, sabar karena Allah atas apa yang disenangi-Nya, meskipun terasa berat bagi jiwa dan raga.
  • Kedua, sabar karena Allah atas apa yang dibenci-Nya, walaupun hal itu bertentangan keinginan hawa nafsu. Siapa yang bersikap seperti ini, maka ia termasuk orang yang sabar yang Insya Allah akan mendapat tempat terhormat.

Betapa kita sangat membutuhkan limpahan pertolongan Allah سبحانا وتعاﱃ dalam setiap aktivitas dan persoalan kehidupan kita. Adalah sangat tepat jika secara bersama-sama kita bisa mengamalkan petunjuk Allah سبحانا وتعاﱃ dalam ayat di atas agar permohonan kita untuk mendapatkan pertolongan-Nya segera terealisasi. Amin


Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

:::: 30 Muharram 1432 ::::
[Semua Gambar Adalah Hiasan]


_________________________
Dipetik Dari:
http://www.dakwatuna.com/2006/menjadikan-sabar-dan-shalat-sebagai-penolong/

Shared By Bicara Hidayah

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. “[Al-Ahzab: 56]
    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
[Al-Bukhariy/ 4519], [Ibnu Majah/ 904, sahih]

Monday, January 3, 2011

BERTAUBAT SECARA KILAT

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Qs. Ali Imran : 133).

ORANG-ORANG mukmin menyadari bahwa kesalahan bisa datang tanpa disadari. Karenanya mereka membiasakan diri mengawali hari dengan taubat. Namun, rentang antara taubat di awal hari dengan hari berikutnya sangat memungkinkan ternodai kesalahan dan kemaksiatan yang baru. Di sinilah letak perbedaan orang-orang mukmin dengan golongan yang lainnya. Seketika, begitu sadar kesalahan atau kemaksiatan terkerja, orang-orang mukmin bersegera bertaubat.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Al-Ahzab ayat 53 menceritakan sebuah riwayat bahwa ayat ini berkenaan dengan Thalhah bin Ubaidillah. Sahabat yang dikatakan Sang Nabi sebagai syahid yang berjalan di muka bumi dan tetangga Nabi di surga ini pernah tersilap khilaf. Ia berkeinginan menikahi Aisyah, jika nanti Rasulullah wafat. Maka turunlah ayat ini:

    "Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah."


Sunday, January 2, 2011

MENGAWAL HARI DENGAN TAUBAT


IBARAT kaca yang terbuka, selalu ada debu yang menempel dan mengotorinya. Meskipun itu adalah kaca jendela milik sebuah rumah di desa. Udaranya segar, minim polusi. Tetapi masih saja ada debu yang datang. Terlebih jika kaca itu berada di dekat jalan raya. Debu-debu beterbangan lebih banyak dan menutupi permukaan lebih cepat. Apalagi jika kaca itu bergerak di jalan raya. Kaca mobil, misalnya.

Demikian pula manusia. Tidak ada satupun yang bersih dari dosa. Ada diantara manusia yang terpeleset oleh dosa-dosa kecil dengan frekuensi yang jarang. Ada pula yang setiap hari, dosa datang mengotori dirinya. Lalu ada pula orang yang bergelimang dengan dosa. Bukan hanya dosa kecil, tetapi juga dosa-dosa besar. Golongan yang terakhir ini jumlahnya lebih banyak.

Mukmin juga manusia. Maka ia tak luput dari dosa. Kalau kita mengecualikan satu orang, maka itu adalah Al-Ma’shum Rasulullah; yang senantiasa dijaga Allah. Bedanya dengan manusia lainnya, mukmin tidak menenggelamkan diri berlama-lama dalam dosa. Tidak menikmati kemaksiatan. Segera ketika tersadar, ia hentikan dosa itu. Menyesal. Dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Tiga langkah ini disebut para ulama sebagai syarat taubat.

BERDO'A UNTUK KETEGUHAN HATI


KUNCI sukses ada di dalam hati. Sukses di dunia dan di akhirat. Hati adalah sumber akhlaq, tingkah laku, cara berpikir, perasaan, dan tentu saja tempat iman dan taqwa.

Dalam meraih sukses, maka langkah pertamanya ialah memperbaiki hati dan teguh dalam kondisi hati yang baik.

Memang tidak mudah menjaga keteguhan hati. Dan, salah satu cara untuk menjaganya ialah dengan memohon kepada Sang Pemilik hati kita.

Bahkan Rasulullah saw pun, selalu berdo’a agar hati beliau tetap teguh. Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah, Aisya ra., berkata,

BERDOA MINTA PERTOLONGAN HENDAKLAH SEPANJANG MASA BUKAN KETIKA BERDEPAN MUSIBAH


RAMAI yang meminta kepada manusia tetapi tidak mahu meminta kepada Allah سبحانا وتعاﱃ . Mereka juga pandai menjaga hubungan baik dengan manusia tetapi memutuskan hubungannya dengan Allah سبحانا وتعاﱃ .

Mereka bergantung kepada manusia dan berharap mendapat manfaat daripadanya sehingga melupakan kuasa Allah سبحانا وتعاﱃ yang memberi manfaat dan mudarat. Perbuatan sebegini boleh menyebabkan iman seseorang terjejas. Seolah-olah mereka hilang kepercayaan kepada Allah سبحانا وتعاﱃ , padahal Dialah yang menggenggam ubun-ubun setiap makhluk.

Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berjumpa dengan cucunda Umar bin Al-Khattab, seorang warak, zuhud lagi alim bernama Salim bin Abdullah bin Umar al-Khattab. Kedua-duanya berada di Baitullah.

Khalifah bertanya: “Apakah kamu mempunyai hajat kepadaku, wahai Salim?”

Salim menjawab: “Wahai Sulaiman tidakkah engkau malu mengatakan itu padahal engkau berada di Baitullah?

Saturday, January 1, 2011

TANGIS INSAF, ZIKIR HIDUPKAN JIWA MATI


DUA
belah mata boleh menangis, tetapi hati tetap reda atas ketentuan-Nya. Demikianlah keadaan orang Mukmin yang bersedih. Tawa dan tangis, gembira dan sengsara, nikmat dan ujian semuanya adalah lumrah kehidupan.

Seseorang itu tidak mungkin hanya melalui satu episod dalam kehidupannya, sedih dan menangis untuk selama-lamanya. Semua akan datang dan pergi silih berganti, tiada yang kekal di dunia ini.

Orang beriman berada di atas batas pertengahan, tidak berlebih-lebihan mengungkapkan perasaan yang bergejolak di hati. Inilah yang disebut sebagai jiwa hamba yang zuhud. Apabila mendapat nikmat, tidak terlalu gembira dan jika diserang musibah tidak pula terlalu bersedih. Semua dikembalikan kepada ketentuan Allah semata-mata.

Menangis adalah suatu ungkapan perasaan normal pada diri manusia. Biasanya manusia menangis atas sebab tertentu. Mungkin berduka kerana sudah kembali kepada Allah seseorang yang mereka kasihi. Kerana rindu yang menyeksa kepada orang disayangi.

Begitu juga orang akan menangis apabila menahan sakit, tidak kira sakit kerana dilukai perasaannya ataupun sakit pada zahir tubuh badannya. Orang akan menangis apabila kehilangan harta, diseksa dan dizalimi, diusir atau dihina peribadinya dan dimalukan di khalayak ramai.