PERNAHKAH kita boros berbelanja hingga kita berbelanja hebat sedangkan sebahagian besar yang kita beli adalah perkara-perkara yang sebenarnya kita tak perlukan? Atau mungkin kita dikuasai amarah hingga kita melupakan persahabatan dan persaudaraan lalu segalanya kita korbankan agar hati kita merasa puas? Pernahkan kita sibuk dalam perkara-perkara yang kurang utama hingga berjam-jam masa kita terbuang begitu sahaja? Pernahkan kita dilanda kekecewaan hingga jiwa kita murung dan hilang keazaman lalu kita biarkan masa berlalu meninggalkan kita bersama kesedihan dan luka-luka pada jiwa? Atau pernahkah kita terlalu gembira hingga kita lupakan batasan-batasan yang akan mengekalkan kewibawaan kita?
Tentunya kita berhak untuk berbelanja setelah bertungkus lumus mengumpul kekayaan. Tentunya kita berhak untuk marah dan kecewa apatah lagi gembira sepuas-puasnya. Tetapi ingat, apabila Allah tiada lagi dijiwa kita dan nilai iman tidak lagi menjadi neraca utama dalam diri kita maka kita sebenarnya sudah menjadi tunggangan nafsu.
Tentunya kita berhak untuk berbelanja setelah bertungkus lumus mengumpul kekayaan. Tentunya kita berhak untuk marah dan kecewa apatah lagi gembira sepuas-puasnya. Tetapi ingat, apabila Allah tiada lagi dijiwa kita dan nilai iman tidak lagi menjadi neraca utama dalam diri kita maka kita sebenarnya sudah menjadi tunggangan nafsu.
