Showing posts with label FIKRAH. Show all posts
Showing posts with label FIKRAH. Show all posts

Sunday, February 13, 2011

IBAD-UR-RAHMAN

SEGALA puji bagi ALLAH, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh. Amma ba’du.

Pembaca yang budiman, sesungguhnya ALLAH memiliki hamba-hamba yang mulia di atas muka bumi ini. Jasad-jasad mereka ada di dunia akan tetapi cita-cita hati mereka tergantung di akhirat. Merekalah Ibad-ur-Rahman. Di dalam Al Quran ALLAH memuji mereka, menerangkan ciri-cirinya agar orang-orang pun merasa tertarik dan bersemangat untuk meniru kebaikan mereka.

Saturday, January 22, 2011

UNTUKMU YANG BERJIWA HANIF

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad): Hendaklah engkau menurut ugama Nabi Ibrahim, yang berdiri teguh di atas jalan yang benar; dan tiadalah ia dari orang-orang musyrik. [An-Nahl:123]

[Then We revealed to you, [O Muhammad], to follow the religion of Abraham, inclining toward truth; and he was not of those who associate with Allah. ]


SUNGGUH HIDAYAH menuju Islam yang hakiki itu merupakan kenikmatan yang terbesar dalam kehidupan manusia, karena ia adalah kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Orang-orang terdahulu telah mengorbankan semua yang ada pada diri mereka untuk meraihnya. Jalan itu pula kiranya yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul dalam mendakwahkan kalimat tauhid untuk mengesakan Allah سبحانا وتعاﱃ.


TUJUAN HIDUP


Setiap manusia sepakat dengan tujuan hidup, yaitu mencari dan menggapai kebahagian. Semua manusia ingin hidup bahagia, hanya saja kebanyakan manusia salah dalam mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang ia sangka disana ada pantai kebahagian, padahal ia adalah jurang kebinasaan.
Banyak orang menyangka kebahagian itu ada pada harta, karenanya ia berletih-letih dan berpeluh mencari sumber-sumber harta. Setelah ia memperoleh harta tersebut, hatinya tetap gundah dan perasaan selalu gelisah, dalam harta yang banyak itu terdapat jiwa yang rapuh.

Banyak pula yang menyangka bahwa pangkat dan kekuasaan itu adalah kebahagian, tetapi setelah pangkat dan kekuasaan diperoleh kebahagiaan semakin jauh darinya, yang terdengar hanya keluh kesahnya.

Friday, January 21, 2011

MENGETUK PINTU-PINTU PERTOLONGAN ALLAH

PERTOLONGAN ALLAH ITU PASTI !

"Wahai orang-orang yang beriman, kalau kamu membela (ugama) Allah nescaya Allah membela kamu (untuk mencapai kemenangan) dan meneguhkan tapak pendirian kamu. " (Muhammad: 7)

Firman Allah tersebut menegaskan rumusan pertolongan Allah yang bersifat timbal balik, sebagai kesinambungan daripada ketaatan yang tinggi kaum beriman. Bantuan dan pertolongan Allah tidak akan datang begitu saja. Allah tidak akan memberi bantuan itu secara percuma.
Allah سبحانا وتعاﱃ menghendaki bahawa pembelaan-Nya kepada orang-orang beriman terwujud dengan adanya usaha daripada diri mereka sendiri, agar mereka mencapai kematangan dari celah-celah kesulitan yang mereka alami. Seseorang akan mencapai kematangan ketika potensi dan kekuatan terpendamnya bangkit. Dan keadaan ini tidak akan wujud kecuali ketika ia berhadapan dengan merbahaya. Ketika seseorang melakukan usaha membela diri dan menghimpun seluruh tenaganya untuk sesuatu yang mengancam aqidah, prinsip dan kehidupannya, di sanalah seluruh kekuatannya akan bangkit.


Thursday, January 20, 2011

INGIN POPULARITI?

"Jika sekadar ingin popular, kencing saja telaga zam-zam !!"  - Pepatah Arab 

YA, kalau sekadar ingin dikenali, lakukan sesuatu yang aneh. Kencing dalam telaga zam-zam maka satu dunia akan kenali kita. Persoalannya bagaimana kita ingin dikenali. Budaya Selibriti telah berjaya merosakkan sekian banyak jiwa dan maruah. Manusia berlumba-lumba mencari populariti dan mereka memang boleh mencapainya kerana ianya bukanlah terlalu sukar. Lebih menyedihkan penyakit ini turut menjangkiti pendakwah-pendakwah Islam.
Beberapa nama yang terselit dicelah-celah lipatan sejarah yang mungkin tidak dirasai oleh masyarakat dizaman mereka tetapi ternyata nama-nama mereka masyhur di persada langit.


Julaibib رضي الله عنه pemuda miskin yang tak berharta dan rupa. Hidupnya merempat bahkan suatu hari ia lalu didepan baginda Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم   lalu ditegur lembut oleh baginda صلیﷲ علیﻪ و سلم
    "Apa kamu tidak ingin berkahwin wahai Julaibib" lalu responnya ringkas "Dengan siapa ya Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم  ?" "Siapakah orang yang sanggup mengahwinkan puterinya pada saya?"
Ya, siapa yang sanggup mengahwinkan anaknya dengan pemuda hodoh dan hitam serta tiba di Madinah tanpa diketahui nasab keturunannya. Sedangkan tidak tahu nasab keturunan itu adalah satu kecacatan sosial bagi masyarakat arab. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur merempat berbantalkan tangan, berkasutkan pasir dan kerikil. Tak ada harta. Minum hanya dari kolam umum yang diceduk dengan tapak tangan yang hitam dan kasar.

Friday, January 14, 2011

DUNIA KITA HIDUP KITA


BISAKAH kita membayangkan bagaimana dulu, Adam dan Hawa, menjalani hidup ketika hanya mereka berdua yang menghuni bumi ini?

Mungkin mudah membayangkan bagaimana mereka mencari makan untuk menyambung hidup, atau membuat rumah tempat mereka berteduh, atau membuat pakaian untuk menutup aurat mereka. Tapi coba bayangkan bagaimana pada mulanya mereka menemukan bahasa sebagai alat komunikasi mereka? Atau bagaimana pada mulanya mereka mengenal satu per satu dari jengkal tanah bumi ini?

Bagaimana mereka mengetahui atau menyepakati bahwa tempat mereka berjalan itu bernama tanah, bahwa benda yang tampak jauh di ketinggian sana, yang berwarna biru adalah langit, bahwa ada makhluk lain di dunia selain mereka yang bernama binatang dan tumbuhan, bahwa ada malampu besar yang membuat hari-hari mereka terbelah dalam terang dan gelap, dan bahwa ketika hari siang itu namanya siang dan ketika hari gelap itu namanya malam? Tapi kenapa kemudian kita, anak cucu Adam dan Hawa, bisa punya ribuan kata yang berbeda untuk satu benda? Mengapa kita punya banyak bahasa?

Lalu bagaimana pula cara kakek nenek kita itu mengenal dunia yang mereka huni ini? Berapa luaskah dari bumi ini, yang sekarang dihuni oleh sekitar 6 milyar anak cucunya, yang bisa mereka jangkau?

LUKISAN YANG TAK SELESAI


Wednesday, January 12, 2011

IMAN BUKAN SEPERTI TIKET BUSWAY

SEORANG mukmin hidupnya kadang mirip peladang. Tak pernah lelah membuka lahan (ladang), menanam benih, merawat, menjaga, dan akhirnya menikmati indahnya tanaman yang mulai berbuah. Tapi, jangan pernah menanggalkan parang. Karena dalam kebun juga ada ular, babi hutan, dan anjing liar.

Keimanan merupakan anugerah Allah yang begitu mahal. Hidup yang keras bisa terlalui dengan tenang, nyaman, dan penuh harapan. Sesulit apa pun kehidupan seorang mukmin, ia tetap punya harapan hari esok yang sangat membahagiakan.

Namun, bukanlah iman yang tanpa ujian. Iman bukan sebuah jaminan kalau seorang anak manusia bisa hidup tanpa gangguan. Bukan seperti tiket busway (lorong khas untuk bas) yang bisa memberi jaminan bebas macet (memucut) di saat padatnya lalu lintas kota. Justru, kian melekat nilai keimanan pada diri seseorang, semakin banyak cobaan dan gangguan.

    ALLAH TAK NAK HAMBANYA MASUK NERAKA

    DUNIA atom ini, ada di antara penganut agama Islam sendiri berburuk sangka dengan Allah dan Islam. Kata mereka bahawa Islam adalah agama yang mengharamkan kegembiraan. Arak diharamnya, babi diharamnya, zina diharamnya, pendek kata semua Islam haram. Jika lakukan, kufur, masuk neraka. Tambah mereka lagi, memang betul kata nabi, “dunia ibarat penjara bagi orang mukmin dan syurga bagi orang kafir.”

    Persoalannya, adakah benar akan segala tohmahan ini? Jika difikirkan secara logik akal, secara rasional, ada benarnya namun perlu diingatkan bahawa agama tidak berdiri dengan akal tetapi agama berdiri dengan wahyu. Jadi, terkadang akal yang terhad ini tidak dapat menjangkau kehendak Tuhan, maka atas paksi itulah Rasul diutuskan.


    KISAH ORANG BUTA DAN GAJAH

    Kisah orang buta dan gajah, cukup terkenal.  Hampir kesemua orang pernah mendengarnya namun kisah ini belum habis.  Ada hikmah yang cuba disembunyikan.  Seorang buta terpegang ekor gajah,  maka diberitahu kepada rakan-rakannya yang lain bahawa gajah itu bentuknya seperti tali.  Tetapi pendapatnya dicanggah oleh seorang buta lain yang terpegang badan gajah. Katanya, “bukan, gajah itu seperti dinding, besar.  ”Seorang buta yang lain pula terpegang kaki gajah,  lalu diumum bahawa gajah itu bukan seperti tali ataupun dinding, tetapi gajah itu seperti sebatang pokok balak.

    Apa yang dinilai oleh orang-orang buta itu,  semuanya salah.  Tiada seorang pun dapat mendiskripsikan gajah itu dengan bentuk yang sebenar.  Kerana apa?  Kerana penglihatan mereka terhad,  penglihatan mereka terbatas maka apa yang dilakukan oleh mereka juga terbatas.

    APA ITU KEBAIKAN DI DUNIA?



    ALLAH beri bermacam-macam kebaikan di dunia buat hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Dan segala kebaikan itu pula bermanfaat untuk akhirat mereka.

    Bagaimana kita hendak tahu kita telah mendapat kebaikan di dunia atau tidak?

    Apa kata para ulama mengenai kebaikan di dunia itu?

    Ulama-ulama dahulu termasuk Ibnu Katsir, telah menyenaraikan apa itu kebaikan di dunia di dalam kitab-kitab mereka. Apa yang mereka senaraikan itu semuanya dilihat dari neraca agama dan penilaian Allah serta bertepatan dengan fitrah manusia yang inginkan kebaikan dalam hidup. Kebaikan yang disenaraikan itu meliputi perkara-perkara berikut: kesihatan, isteri yang solehah, rezeki yang luas lagi halal, anak-anak penyejuk hati, kerehatan, ilmu yang bermanfaat, amal soleh, rumah yang aman, kenderaan yang baik, dan pandangan baik dari orang. Kebaikan di dunia juga menurut ulama merangkumi limpahan segala nikmat, kesejahteraan hidup dan taufik dari Allah Yang Esa.

    Ada juga ulama mengatakan kebaikan di dunia itu meliputi tiga perkara iaitu hati yang bersyukur, lidah yang berzikir dan tubuh badan yang sabar (dalam menanggung ujian Allah). Tiga perkara ini terkandung dalam doa yang diamalkan oleh Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم

    Senarai kebaikan di dunia oleh ulama-ulama ini bukan hanya dilihat pada perkara-perkara lahir yang dapat dipandang mata tetapi juga perkara-perkara batin yang dapat dirasai oleh hati. Perkara-perkara itu adalah pokok-pokok kebaikan di dunia.


    Monday, January 10, 2011

    IMAN SEBAGAI BENTENG AGAMA

    SETIAP
    kejadian yang berlaku di dunia ini mestilah dikaitkan dengan konsep wujudnya Allah sebagai Pentadbir segala sesuatu. Peristiwa kelahiran manusia mahupun binatang yang asalnya tiada kepada ada dan pasti menempuhi detik masa dinamakan penamat kehidupan membuktikan pasti ada yang mengaturnya.

    Fenomena kejadian alam yang silih berganti antara malam dan siang, penghasilan tanaman dan tumbuhan untuk kegunaan makhluk bernyawa, proses perkembangan taraf kemajuan manusia juga adalah petunjuk adanya Pentadbir alam ini.

    Kitab suci al-Quran membongkar segala persoalan yang pasti hanya akan diketahui oleh pengkaji ayat-Nya. Firman Allah yang bermaksud:
      “Sesungguhnya pada langit dan bumi ada tanda (yang membuktikan kekuasaan Allah) bagi orang beriman. Dan pada kejadian diri kamu sendiri serta (pada kejadian) segala binatang yang dibiakkanNya, ada juga tanda (membuktikan kekuasaan Allah) bagi orang yang meyakininya. Dan pada pertukaran malam dan siang, silih berganti dan juga (pada) rezeki yang diturunkan Allah dari langit, lalu ia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya, serta (pada) peredaran angin (semuanya itu mengandungi) tanda (membuktikan keesaan Allah, kekuasaan-Nya, kebijaksanaan-Nya, serta keluasan rahmat-Nya) bagi kaum yang mahu menggunakan akal fikiran.” (Surah al-Jaathiyah, ayat 3-5)


    NALURI INGIN BERAGAMA

    Jiwa manusia beriman sudah ditanam dalam sanubarinya perasaan yakin akan kewujudan Allah dan pastinya perasaan itu adalah fitrah yang dicampakkan ke dalam hati insan yang diberi petunjuk oleh-Nya. Hal itu dijelaskan ulama sebagai naluri ingin beragama.

    Firman Allah yang bermaksud:
      “(Setelah jelas kesesatan syirik itu) maka hadapkanlah dirimu (engkau dan pengikutmu wahai Muhammad) ke arah agama yang jauh daripada kesesatan, (turutlah terus) agama Allah, iaitu agama yang Allah menciptakan manusia (dengan keadaan bersedia dari semula jadinya) untuk menerimanya.” (Surah al-Rum, ayat 30)

    Naluri manusia untuk memperakui ketuhanan Rabbul Jalil turut dinyatakan melalui firman Allah yang bermaksud:
      “Dan (ingatlah wahai Muhammad), ketika Tuhanmu melahirkan zuriat Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan Ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil Ia bertanya dengan firman-Nya), bukankah Aku Tuhan kamu? Mereka semua menjawab: benar (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi, yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak: sesungguhnya kami adalah lalai (tidak diberi pengingatan) mengenai (hakikat Tauhid) ini.” (Surah al-A’raaf, ayat 172)

    HARTA, PANGKAT PENGUJI TAHAP KEIMANAN

    KITAB Sahih al-Bukhari, bab Ghazwah Hunain menyebutkan ketika Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم membahagi harta rampasan perang kepada orang Muhajirin sebanyak 100 ekor unta untuk setiap orang, ramai munafiqin yang bersuara: "Sungguh ini adalah pembahagian yang tidak adil."

    Timbul pula fitnah dan cakap-cakap keji di belakang Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم  yang dihembuskan orang munafik mengenai kedudukan kaum Muhajirin dan Ansar yang dibezakan, mengapa kaum Muhajirin (orang Makkah) yang baru memeluk Islam itu diberi keutamaan oleh Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم .
    Padahal, orang Ansar sudah banyak berkorban untuk kejayaan Islam berbanding mereka yang baru memeluk Islam.  Bahkan mereka mengatakan:
      "Sedangkan pedang kami masih berlumuran darah bagi membela Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم  ." Mereka mengungkitkan pembelaan tidak berbelah bagi kepada Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم .

    Angin perpecahan dan antiperpaduan cuba ditiupkan oleh mereka yang hatinya rosak. Isu berbaur perkauman itu lantas ditangkis dengan cekap melalui pandangan politik Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم yang tajam dengan kaedah tarbiah nubuwwah.

    Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم memanggil dan mengumpulkan kaum Ansar di Lembah Hunain lalu memberi mereka dua pilihan, apakah mereka memilih harta rampasan perang yang murah nilaiannya itu atau memilih untuk membawa pulang Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلمdan Baginda menjadi harta milik mereka?

    Saturday, January 8, 2011

    KEKUATAN ITU ADA PADA AL-QUR’AN

    “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
    (Al-Isra’: 85)

    TERDAPAT
    lebih dari 19 ayat yang menyebut kata “ruh” dalam Al-Qur’an. Maksud yang terkandung dari istilah ini tidak keluar dari arti malaikat Jibril yang biasanya ditambah dengan istilah Ruhul Quds atau Ar-Ruhul Amin dan maksud yang kedua adalah Al-Qur’an. Dan hanya satu ayat yang bermaksud roh dalam arti yang sebenarnya, yaitu pada ayat ini, seperti d atas. Meskipun demikian terdapat juga ulama tafsir seperti yang dinukil oleh Imam Al-Qurthubi yang memahami ruh dalam arti analogis yaitu Al-Qur’an. Maka pengertian ayat ini menurut Al-Qurtubi secara analogis adalah:
      “Dan mereka bertanya, “Darimanakah Al-Qur’an yang di tanganmu ini?”. “Katakanlah: Sesungguhnya ia diturunkan sebagai mukjizat atas perintah Allah swt.”


    RUH MEMILIKI PENGERTIAN AL-QUR'AN

    Analogi kedua makna ini sangat jelas. Roh merupakan alat kehidupan manusia secara fisik materil. Manakala Al-Qur’an adalah roh yang bisa memberi kekuatan dan kehidupan manusia secara psikologis ruhiyah. Hal ini bertepatan dengan ungkapan Malik bin Dinar tentang roh Al-Qur’an:
      “Wahai Ahlul Qur’an! apa yang telah ditanam oleh Al-Qur’an ke dalam lubuk hatimu? Sesungguhnya Al-Qur’an adalah penyubur hati sebagaimana hujan yang menyuburkan bumi.”

    Dalam konteks ruh yang memiliki pengertian Al-Qur’an, terdapat empat ayat membahasnya, yaitu surah An-Nahl: 2, Ghafir: 15, Asy-Syura: 52 dan Surah Al-Isra’: 58 yang dipahami secara analogis. Tentunya, penamaan Al-Qur’an dengan ruh bukan kebetulan dan tanpa hikmah yang perlu digali oleh hamba-Nya yang merindukan keberkahan dan kekuatan dari Al-Qur’an, seperti juga nama dan sifat lain yang dimiliki oleh Al-Qur’an yang mencerminkan fungsi dan perannya yang komprehensif dan universal. Betapa hanya Al-Qur’an yang bisa diandalkan menyelesaikan masalah kemanusiaan dalam segala bentuknya.

    Sayyid Qutb menyatakan pandangannya tentang penamaan Al-Qur’an dengan ruh berdasarkan firman Allah:

      “(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang memberi ruh dengan (membawa) perintahNya kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (Ghafir: 15)
    ... bahwa ini merupakan kinayah tentang wahyu. Redaksi yang digunakan dalam ayat ini mengisyaratkan dua hal:
    • Pertama, bahwa wahyu (Al-Qur’an) adalah ruh dan kehidupan bagi manusia, tanpa ruh ini manusia tidak akan bisa hidup dengan baik dan benar,
    • Kedua, bahwa wahyu itu turun dari tempat yang tinggi kepada siapa yang dipilih dari hamba-hamba-Nya. Redaksi ini bertepatan dengan sifat Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
    Selanjutnya beliau juga menafsirkan ruh dalam ayat-ayat ini sebagai sebuah kekuatan yang menggerakkan, mempertahankan kehidupan di dalam hati, bahkan di dalam kehidupan nyata sehari-hari.

       “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)


    KEKUATAN DARI SENTUHAN AL QUR'AN

    Kekuatan besar dari sentuhan Al-Qur’an ini dirasakan benar oleh para sahabat Rasulullah karena memang mereka menerima Al-Qur’an ini dengan segenap hati, pikiran dan kemauan mereka. Seperti yang diriwayatkan oleh Ath-Thobroni dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa ia berkata:

    “Ketika turun surah Az-Zalzalah, maka serentak Abu Bakar yang sedang duduk waktu itu menangis. Maka Rasulullah وسلم علي ﷲ صلى   pun menghampirinya dan bertanya, “Apa yang membuat engkau menangis wahai Abu Bakar?”. Surah inilah yang membuat aku menangis”. Maka Rasulullah menenangkan dengan sabdanya:
      “Jika kalian tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka Allah akan menciptakan kaum lain yang mereka itu melakukan salah dan dosa kemudian mereka bertaubat dan Allah mengampuni mereka.”


    Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Hanthob bahwa Rasulullah وسلم علي ﷲ صلى   pernah membacakan surah ini dalam satu majlis di mana seorang Arab Badui ikut serta duduk bersama. Setelah mendengar ini, lelaki itu lantas keluar sambil menyesali dirinya “alangkah buruknya aku”. Maka Rasulullah mengatakan kepada para sahabatnya, “sungguh iman telah masuk ke dalam hati lelaki badui tadi.”

    Maka sangat tepat ungkapan Dr. Yusuf Al-Qaradlawi yang menegaskan bahwa:
      “Al-Qur’an adalah “ruh Rabbani” kekuatan Rabbani yang akan mampu menghidupkan dan menggerakkan akal fikiran dan hati. Sebagaimana Al-Qur’an juga undang-undang Allah yang mengatur kehidupan manusia sebagai individu dan bangsa secara kolektif.”


    Syekh Muhammad Al-Ghazali menyebutkan:
      “Al-Qur’an inilah kitab yang membentuk jiwa, membangun umat dan kebudayaan mereka. Inilah sesungguhnya kekuatan Al-Qur’an. Namun yang sangat disayangkan bahwa cahaya ini tidak nampak di depan umat Islam karena mata-mata mereka sudah tertutup sehingga aib dalam konteks sekarang ini bukan aib Al-Qur’an, tetapi aib pandangan manusia yang lebih mengagungkan kekuatan lain selain Al-Qur’an. Padahal Allah sudah berfirman, “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan, dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16)

    Karenanya esensi seluruh perintah dan petunjuk Al-Qur’an adalah dalam rangka memelihara kehidupan manusia, baik secara fisik maupun psikis. Tanpa panduan dan pedoman ini, kehidupan manusia semakin tidak menentu dan jelas arahnya.
      “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Al-Anfal: 24)


    AL QUR'AN UNTUK ORANG YANG HIDUP HATINYA

    Kekuatan lain yang seharusnya kita sadari dari Al-Qur’an yang mulia ini bahwa Al-Qur’an merupakan sistem hidup yang mengarahkan orang-orang yang beriman untuk mewujudkan kehidupan dalam bingkai keimanan. Sebuah hakikat kehidupan yang meliputi segenap komponen yang ada pada diri manusia; menghidupkan fisik, perasaan, getaran jiwa, kemauan, pikiran dan kehendaknya.
      “Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” (Yaasin: 70) 
       
    Ibnu Qutaibah dalam kitab “Tafsir Gharibil Qur’an” memahami kalimat “Hayyan” di dalam ayat ini dengan pengertian seorang mukmin yang hidup karena memperoleh petunjuk Allah سبحانا وتعاﱃ. demikian juga dengan firman Allah سبحانا وتعاﱃ:
      “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 122).

    Yang dimaksud dengan orang yang hidup dalam ayat ini adalah orang yang beriman dan orang yang mati adalah orang kafir. Makanya Allah membedakan keduanya dengan menggunakan istilah ini juga di dalam firman-Nya:
      “Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.” (Fathir: 22)

    Sesungguhnya, berbagai ujian yang mengejutkan bangsa ini semakin membuktikan hakikat yang tidak terbantahkan akan kelemahan manusia dan hajat mereka akan pertolongan Allah swt. bahwa sesungguhnya sumber kekuatan satu-satunya adalah Allah yang menciptakan segalanya dan kita akan meraih kekuatan itu dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber kehidupan dan kekuatan kita.

    Sekali lagi, Allah سبحانا وتعاﱃ. mengingatkan kita akan kekuatan Al-Qur’an.
      “Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” (An-Nahl: 2)

    Memang sudah saatnya bagi kita untuk menerima Al-Qur’an dengan segenap perasaan, pikiran dan kehendak kita dan tidak mengharap atau menggantungkan kekuatan lain di luar dari kekuatan firman-Nya.
      “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)

    Selama kita masih mengharap datangnya kekuatan lain, maka selama itu pula kita tidak akan meraih kehidupan yang mulia di bawah bimbingan dan naungan Al-Qur’an


    :::: 3 Safar 1432 ::::
    [Semua Gambar Adalah Hiasan]
    


    ___________________________________
    Dipetik Dari:
    http://www.dakwatuna.com/2008/kekuatan-itu-ada-pada-al-quran/

    Shared By Bicara Hidayah

    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. “[Al-Ahzab: 56]

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

    [Al-Bukhariy/ 4519], [Ibnu Majah/ 904, sahih]

    PELAJARAN DARI KETEGARAN SEORANG WANITA

    “Sesungguhnya Allah Telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,“ (Al-Mujadilah: 1)

    AYAT diatas yang mengawali surah Al-Mujadilah yang berarti wanita yang mengajukan gugatan (Eng: accusation, suit, claim, criticism ) dapat dibaca dari dua sudut pandang; sisi keperihan hati seorang isteri atau sisi ketegaran (Eng: tough, stiff, rigid) serta keberaniannya menghadapi perilaku suami. Surah ini termasuk surah yang unik dilihat dari segi pemaparan hukum zihar yang diawali dengan pengungkapan sebab turun dan peristiwa yang melatarbelakangi berlakunya hukum hakam seputar (BM: berkenaan)  zihar. Ibnu Asyur menyimpulkan, diantara keunikan surah ini bahwa hukum zihar yang menjadi fokus surah ini jutru diawali dengan menyebutkan sebab turunnya terlebih dahulu untuk menunjukkan perhatian yang besar kepada wanita yang menjadi subjek dalam peristiwa zihar pertama dalam Islam yang mengadukan permasalahannya dan menuntut hak dan keadilan atas perilaku suaminya yang cenderung mengabaikan dirinya dan anak-anaknya setelah sekian lama mengecapi kehidupan rumah tangga.

    Senada dengan Ibnu Asyur, Sayyid Quthb mengagumi permulaan surah ini dengan menyatakan bahwa surah ini diawali dengan sebuah gambaran yang unik dalam sejarah kemanusiaan. Gambaran yang konkrit tentang wujudnya pertalian dan hubungan yang kuat dan tidak terputus antara langit dan bumi. Keterlibatan langit dengan kejadian sehari-hari di bumi meskipun terhadap sebuah keluarga kecil yang tidak memiliki keistimewaan apapun. Semata-mata untuk menetapkan hukum Allah demi keadilan yang berlaku untuk hambaNya. Demikian Allah akan senantiasa hadir mengawasi dan memperhatikan kebutuhan dan tuntutan hambaNya. Sesaatpun Allah tidak akan pernah lalai akan keadaan hambaNya, siapapun tanpa terkecuali seperti yang terjadi pada seorang wanita tua yang menyampaikan keperihan hatinya dan menuntut hak seorang istri atas perlakuan suaminya yang tidak mengormati haknya.



    ‘ Tujadilu ’ yang menjadi kata kunci ayat diatas bisa difahami dengan dua pengertian menurut mufassir Zamakhsyari, yaitu dalam arti ‘tastaghitsu’ meminta pertolongan dan dalam arti ‘tastarhimu’ yaitu memohon kasih sayang Allah سبحانا وتعاﱃ . Pada kedua makna bahasa ini tercermin maksud pengaduan wanita tua tersebut kepada Allah. Ia meminta pertolongan sekaligus memohon kasih sayang Allah agar permasalahan yang dihadapinya yang merungsingkan fikiran dan mengganggu keharmonisan rumah tangganya segera mendapatkan jawaban yang tuntas (Eng: complete, total, thorough  )langsung dari Yang Maha Bijaksana. Disini terekam keberanian dan ketegaran seorang wanita dalam menghadapi persoalan internal rumah tangganya. Seorang isteri memang dituntut memiliki kesabaran ekstra disamping tidak mudah patah semangat dalam menghadapi apapun persoalan rumah tangga yang menjadi sunnah dan romantika kehidupan keluarga.

    Allah سبحانا وتعاﱃ  mengabadikan kisah ketegaran dan keberanian seorang wanita justru di awal surah yang mengawali juz ke 28 agar mudah ditemukan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa wanita itu bernama Khaulah binti Tsa´labah yang telah diperlakukan secara ‘zihar’ oleh suaminya Aus ibn Shamit, yaitu dengan mengatakan kepada isterinya: “Kamu bagiku seperti punggung ibuku” dengan maksud dia tidak boleh dan tidak akan menggauli isterinya kembali, sebagaimana ia tidak boleh menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliyah saat itu, ungkapan zihar secara hukum sama dengan mentalak isteri. Maka Khaulah mengajukan gugatan kepada Rasulullah وسلم علي ﷲ صلى seraya meminta kepastian hukum tentang perilaku suaminya tersebut. Rasulullah menjawab bahwa dalam hal persoalan ini belum ada keputusan dari Allah سبحانا وتعاﱃ  sehingga  Rasulullah وسلم علي ﷲ صلى mengatakan:
       “Engkau telah diharamkan bersetubuh dengan dia.” Khaulah kembali menyampaikan argumentasinya: “Suamiku belum mengeluarkan kata-kata talak.”

    Berulang kali Khaulah mendesak  Rasulullah وسلم علي ﷲ صلى supaya menetapkan suatu keputusan hukum tentang persoalan yang dihadapinya. Maka turunlah ayat ini dan ayat-ayat berikutnya yang menjelaskan secara rinci (Eng: detailed) hukum hakan seputar zihar yang belum pernah ada sebelumnya.


    Dalam riwayat yang lebih rinci dari Aisyah, wanita yang bernama Khaulah binti Tsa’labah (sesuai dengan nama bapaknya) atau Khaulah binti Khuwailid (nisbah kepada nama kakeknya (BM: Datuk)) menuturkan kepedihan hatinya atas perilaku suaminya yang melakukan zihar terhadap dirinya,
      “Wahai Rasulullah, ia telah merenggut masa mudaku dan aku hamil karenanya. Namun ketika aku berusia lanjut dan tidak mampu melahirkan anak kembali, ia malah menziharku. Aku tidak kuasa menahan keperihan ini karena aku memiliki anak yang banyak. Jika aku menyerahkan anak-anakku kepadanya bisa jadi mereka akan kelaparan karena kemiskinan suamiku. Namun jika anak-anakku yang masih kecil bersamaku, maka mereka akan merasakan kehilangan bapaknya. Wahai Rasulullah, putuskanlah untuk kami yang bisa mengumpulkan kami kembali bersamanya karena ia telah menyesali perbuatannya.” Rasulullah وسلم علي ﷲ صلى menjawab: “Ia telah diharamkan untuk kamu.”

    Wanita itu terus mengadukan persoalannya kepada  Rasulullah وسلم علي ﷲ صلى sambil menengadah ke langit memohon kasih sayang Allah. Lantas Allah menurunkan ayat ini sebagai jawaban atas peristiwa zihar yang melibatkan diri dan suaminya.

    Jelas zihar merupakan ungkapan yang menyakitkan hati seorang wanita, karena kata-kata seperti itu jelas menunjukkan sikap suami yang tidak memperdulikan atau cenderung tidak menghargai pengorbanan dan layanan isterinya. Bahkan ia tega (Eng: to have the heart (nerve) to, dare, venture) mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan seakan-akan ia tidak pernah merasakan manisnya kehidupan suami isteri selama ini. Sungguh di luar dugaan Khaulah memang, bagaimana mungkin suami yang sangat disayanginya tiba-tiba berubah sikap dan mulai berani mengeluarkan kata-kata ketus (Eng: sharp (in reply), speaking in an angry tone) yang menyinggung perasaannya justru di saat ia mendambakan hadirnya cinta yang tulus dari suaminya memasuki usia lanjut keduanya.

    Peristiwa ini benar-benar membekas di hati isteri  Rasulullah وسلم علي ﷲ صلى, Aisyah  رضي الله عنه. Ia berujar seraya memuji wanita tersebut:
      “Segala puji milik Allah yang luas pendengaranNya meliputi segala suara. Telah datang seorang wanita yang mengadu persoalannya kepada Nabi. Saya tidak dapat mendengar pengaduannya padahal saya berada di sisi rumah dan Allah Maha Mendengar dengan menurunkan ayat ini”. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Majah)

    Tentu merupakan suatu hal yang luar biasa manakala Allah langsung mendengar aduan dan jeritan hati seorang wanita yang ingin mengetahui kepastian hukum dengan suaminya. Bahkan Allah menurunkan jawaban langsung tentang persoalan yang diperselisihkan tersebut. Padahal ia hanya seorang wanita biasa, bukan wanita yang memiliki kedudukan istimewa di sisiNya. Namun begitulah Allah hadir untuk siapapun yang benar-benar mengadukan jeritan hatinya dengan tulus hanya kepadaNya.

    Setelah turun jawaban dari Allah melalui ayat ini,  Rasulullah وسلم علي ﷲ صلى memanggil Aus bin Shamit suami Khaulah:
      “Apakah gerangan yang membuatmu berlaku demikian?” Ia menjawab: “Syaitan yang menggodaku”.  Rasulullah وسلم علي ﷲ صلى bertanya lagi: “Apakah kamu kuat untuk berpuasa?”. “Tidak ya Rasulullah”. Kalau begitu apakah kamu mampu memerdekakan hamba sahaya”. “Tidak juga wahai Rasulullah, aku tidak memiliki harta yang banyak untuk memerdekakan budak”. Rasulullah bertanya untuk ketiga kalinya: “Apakah kamu bisa memberi makan kepada 60 orang miskin”. Ia menjawab: “Justru sayalah orang sangat membutuhkan bantuan”. Maka Rasulullah memberinya 15 sha’ yang ia sedekahkan kepada 60 fakir miskin.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud)


    KISAH UMAR  رضي الله عنه DINASIHATI KHAULAH BINTI TSA’LABAH


    Sejak peristiwa besar yang mengangkat posisi wanita ini, Umar bin Khattab  رضي الله عنه siap untuk mendengarkan nasihat wanita tersebut kapanpun, seperti yang diriwayatkan bahwa suatu hari Umar berjalan bersama pengawalnya persis di depan Khaulah binti Tsa’labah. Lantas wanita itu memberhentikan langkah Umar dan berbicara kepadanya seraya menasehati:
      “Bertakwalah wahai Amirul Mu’minin, karena seorang yang yakin dengan kematian ia takut terlewat (tidak beramal) dan siapa yang takut dengan hisab, pasti ia takut dengan azab.”
    Umar menyimak nasehat wanita tersebut dengan cermat tanpa berganjak sedikitpun sehingga para pengawalnya berkata,
      “Wahai Khalifah, siapa gerangan wanita tua ini? Engkau benar-benar tidak berganjak saat wanita itu menasehati”. Umar berkata: “Ketahuilah, seandainya wanita ini menghentikan perjalananku dari siang hingga malam, aku akan menurutinya walau dalam keadaan apapun kecuali untuk shalat. Tidakkah kamu tahu, inilah wanita yang didengar pengaduannya langsung oleh Allah dari langit ke tujuh. Jika Allah berkenan mendengar aduan wanita tersebut, kenapa Umar tidak?”

    Demikian sepenggal (Eng: piece, lump, fragment) kisah yang menyentuh sisi ketegaran dan keberanian seorang wanita dibalik kelembutan dan ketidakberdayaannya menghadapi perilaku suami yang cenderung tidak perduli dengan perasaan seorang isteri yang telah berbuat banyak hal untuk dirinya. Kisah penghargaan Allah yang istimewa terhadap sosok wanita tentu harus menjadi pelajaran yang berharga bagi keluarga manapun, bahwa hak seorang isteri mutlak harus dipenuhi selaras dengan pengorbanan dan peran (pernanan) besarnya dalam membina rumah tangga yang harmonis dibawah naungan ridha Allah سبحانا وتعاﱃ .



    Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

    :::: 3 Safar 1432 ::::
    [Semua Gambar Adalah Hiasan]
    


    ___________________________________
    Dipetik Dari:
    http://www.dakwatuna.com/2009/pelajaran-dari-ketegaran-seorang-wanita/

    Shared By Bicara Hidayah

    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. “[Al-Ahzab: 56]

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

    [Al-Bukhariy/ 4519], [Ibnu Majah/ 904, sahih]

    Wednesday, January 5, 2011

    MEMBACA KASIH SAYANG ALLAH

    “Dan Dia (Allah) Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim lagi sangat mengingkari (kufur nikmat)“. (Ibrahim: 34)

    MEMBACA merupakan perintah pertama Allah dalam الْقُرْآنَ yang ditujukan langsung kepada manusia pilihan-Nya,   رسول الله  وسلم علي ﷲ صلى melalui wahyu pertama ‘Iqra’ (bacalah) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan’ (Al-Alaq: 1). Membaca di sini harus difahami dalam arti yang luas karena memang objek membaca dalam wahyu pertama tersebut tidak dibatasi dan tidak ditentukan; Bacalah! Berarti beragam yang layak dan harus dibaca. Salah satu objek terbesar yang harus dibaca adalah kasih sayang Allah سبحانا وتعاﱃ yang terhampar di seluruh jagat raya ini tanpa terkecuali. Semuanya adalah bukti dan tanda kasih sayang Allah سبحانا وتعاﱃ untuk seluruh makhluk ciptaan-Nya.


    SENTIASA MEMBACA HAMPARAN KARUNIA ALLAH YANG TIADA TERHINGGA

    Untuk itu, ayat di atas hadir untuk mengingatkan manusia akan kasih sayang Allah سبحانا وتعاﱃ yang memberikan segala yang dibutuhkan, sekaligus merupakan perintah untuk senantiasa membaca karunia tersebut agar tidak termasuk orang yang zalim, apalagi kufur nikmat seperti yang disebutkan di kalimat terakhir ayat tersebut di atas ‘Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim lagi sangat ingkar nikmat.’

    Tentu, ayat ini tidak berdiri sendiri seperti juga seluruh ayat-ayat Al-Quran. Setiap ayat memiliki keterkaitan dan korelasi dengan ayat sebelum atau sesudahnya yang menunjukkan wahdatul Qur’an kesatuan dan kesepaduan ayat-ayat الْقُرْآنَ, termasuk ayat di atas ini harus dibaca dengan mengkorelasikannya dengan dua ayat sebelumnya yang menggambarkan sekian banyak dari nikmat Allah سبحانا وتعاﱃ yang harus dibaca dengan penuh kesadaran:

      “Allahlah Yang telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia pula telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim: 32-33)

    Ayat yang senada dengan ayat di atas dalam bentuk tantangan Allah kepada seluruh makhluk-Nya sekaligus perintahNya untuk membaca hamparan karunia nikmat-Nya yang tiada terhingga adalah surah An-Nahl: 18 

      “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Dalam penutup ayat ini Allah سبحانا وتعاﱃ hadir dengan dua sifat yang merupakan puncak dari kasih sayang-Nya, yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.




    KETIDAK BERDAYAAN HAMBA ALLAH DALAM MENGHITUNG  DAN BERSYUKUR NIKMAT-NYA

    Ibnu Katsir mengungkapkan penafsirannya dalam kitab Tafsir الْقُرْآنَ Al-Azhim bahwa selain dari perintah Allah untuk membaca nikmat Allah, pada masa yang sama merupakan sebuah pernyataan akan ketidak berdayaan hamba Allah سبحانا وتعاﱃ dalam menghitung nikmat-Nya, apalagi menjalankan kesyukuran karenaNya, seperti yang dinyatakan oleh Thalq bin Habib:
      “Sesungguhnya hak Allah sangat berat untuk dipenuhi oleh hamba-Nya. Demikian juga nikmat Allah begitu banyak untuk disyukuri oleh hamba-Nya. Karenanya mereka harus bertaubat siang dan malam.”



    LANGKAH-LANGKAH MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

    Membaca kasih sayang Allah merupakan langkah awal mensyukuri nikmat-Nya. Untuk membuktikan bahwa seseorang telah melakukan syukur nikmat, paling tidak terdapat empat langkah yang harus dipenuhinya:
    • Pertama, mengekpresikan kegembiraan dengan kehadiran nikmat tersebut.
    • Kedua, mengapresiasikan rasa syukur atas nikmat tersebut dengan ungkapan lisan dalam bentuk pujian.
    • Ketiga, membangun komitmen dengan memelihara dan memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Sang Pemberi nikmat.
    • Keempat, mengembangkan dan memberdayakannya agar melahirkan kenikmatan yang lebih besar di masa yang akan datang sesuai dengan janji Allah سبحانا وتعاﱃ dalam firman-Nya:
      “Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu.” (Ibrahim: 7) Di sini kesyukuran justru diuji apakah dapat membuahkan kenikmatan yang lain atau malah sebaliknya, menghalangi hadirnya nikmat Allah سبحانا وتعاﱃ dalam bentuk yang lainnya.


    PROJEK IBLIS MENGHALANG MANUSIA DARI BERSYUKUR KEPADA ALLAH

    Ternyata memang mega projek (proyek) Iblis terhadap manusia adalah bagaimana menjauhkannya dari kasih sayang Allah سبحانا وتعاﱃ sehingga mereka senantiasa hanya membaca ujian dan cobaan yang menimpanya agar mereka tidak termasuk kedalam golongan yang mensyukuri nikmat-Nya. Padahal secara jujur, kasih sayang Allah سبحانا وتعاﱃ dalam bentuk anugerah nikmat-Nya pasti jauh lebih besar daripada ujian maupun sanksi-Nya (English: sanction), BM: kelulusan, kebenaran). Di sini, kelemahan manusia membaca nikmat merupakan keberhasilan projek iblis menyesatkan manusia. Allah menceritakan tentang projek Iblis dalam firman-Nya:
      “Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.“ (Al-A’raf: 16-17)

    Dalam konteks ini, sungguh usaha dan kerja Iblis tidak main-main. Ia akan memperdaya manusia dari seluruh segmentasi dan celah kehidupannya tanpa terkecuali. Dalam bahasa Prof. Mutawalli Sya’rawi, “Syaitan akan datang kepada manusia dari titik lemahnya (ya’tisy Syaithan min nuqthah dha’f lil insan).” Jika manusia kuat dari aspek harta, maka ia akan datang melalui pintu wanita. Jika ia kuat pada pintu wanita, ia akan datang dari pintu jabatan dan begitu seterusnya tanpa henti. Sehingga akhirnya hanya segelintir manusia yang akan selamat dari bujuk rayu syetan dan menjadi pribadi yang bersyukur.
     
    Allah سبحانا وتعاﱃ pernah berpesan kepada Nabi Daud dan keluarga-Nya agar mewaspadai hal tersebut dalam firman-Nya:
      “Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur).“ (Saba’: 13)

    Memang hanya sedikit sekali yang cerdas dan bijak membaca kasih sayang Allah سبحانا وتعاﱃ. Selebihnya adalah manusia yang suka berkeluh kesah, mengeluh dan tidak bersyukur atas karunia nikmat yang ada. Bahkan kerap menyalahkan orang lain, su’uzhan dan berprasangka buruk kepada Allah. Padahal kebaikan dan pahala sikap syukur itu akan kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain. Karenanya ujian kesyukuran itu akan terus menyertai manusia sampai Allah benar-benar tahu siapa yang bersyukur diantara hamba-Nya dan siapa di antara mereka yang kufur.

    ‘Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang sedikit.‘

    Allahu a’lam.


    Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA


    :::: 30 Muharram 1432 ::::
    [Semua Gambar Adalah Hiasan]


    _________________________
    Dipetik Dari:
    http://www.dakwatuna.com/2009/membaca-kasih-sayang-allah-2/

    Shared By Bicara Hidayah

    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. “[Al-Ahzab: 56]

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

    [Al-Bukhariy/ 4519], [Ibnu Majah/ 904, sahih]

    Monday, January 3, 2011

    AL-QURAN, AMAL SOLEH PENEMAN KETIKA AJAL DATANG MENJEMPUT


    SESIAPA yang tahu bilakah ajalnya datang tentu akan mengalami tekanan akal dan perasaan. Tetapi Allah menjadikan manusia bersifat lupa dan lalai terhadap kematian. Bayangkanlah jika semua manusia tahu hari atau jam berapa dia akan mati, tentu porak-peranda dunia ini.

    Kematian adalah misteri yang tidak akan terpecah dengan fahaman rasional semata. Manusia perlukan iman untuk melalui perjalanan menuju kematian dengan reda dan bersedia.

    Abdullah bin Mas’ud berkata,

      Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم melukis empat segi untuk kami. Di tengahnya Baginda membuat garisan dan dekat garisan itu Baginda melukis beberapa garisan lain. Baginda juga membuat garisan di luar kemudian bersabda yang bermaksud: “Apakah kamu tahu apa ini? Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Baginda bersabda: “Ini adalah insan (garisan yang di tengah), ini adalah ajal dan ia mengepungnya. Ini adalah beberapa hal baru (garisan yang di sekitarnya), ia menggigitnya. Jika luput terhadapnya ajal ini, maka manusia digigit oleh beberapa hal baru ini. Dan yang ini adalah angan-angan (beberapa garisan di luar).” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

    Saturday, January 1, 2011

    KIASAN AL-QURAN MENUSUK JIWA INSAN IKHLAS

    Memahami tafsir ayat cengkam hati, suntik ilustrasi positif semangat iman   

    SETIAP
    kali الْقُرْآنَ dibaca maka tersingkaplah segala sifat diri orang yang membacanya. Orang itu pun bertafakur menghayati ayat menceritakan mengenai jati dirinya sebagai insan. Apabila dia beriman dengan apa yang dibacanya, maka segala keburukan terpalit dalam diri segera mahu dibaiki.

    Namun, ada yang tidak mahu mengakui kelemahan diri yang tersindir oleh ayat الْقُرْآنَ. Padahal kiasan dan ulasan الْقُرْآنَ begitu menusuk ke jantung hati orang yang ikhlas.

    Jika ditanya bilakah agaknya anda tidak berminat lagi dengan apa-apa pun melainkan berfikir mengenai akhirat? Sudah tentu ketika dada anda memeluk الْقُرْآنَ, hati mengimani dan emosi mengikut petunjuknya.

    Umar al-Khatab menceritakan detik bersejarah runtuhnya tembok kekufuran oleh hembusan hidayah yang dihantar الْقُرْآنَ ke jiwanya. Umar berkata ketika dia masih kafir lagi:   
      “Aku harus pergi ke Kaabah untuk melakukan tawaf tujuh atau 70 kali. Lalu aku pun datang ke sana untuk melakukan tawaf, aku melihat ﺮﺴﻮل ﷲ sedang berdiri melakukan sembahyang, saat itu Baginda solat menghadap ke Syam (Baitulmaqdis) dan Baginda menjadikan Kaabah di antara dirinya dan negeri Syam. Baginda berdiri di antara rukun Hajarul Aswad dan rukun Yamani. Aku berkata dalam hati saat aku melihatnya: Demi Allah, jika malam ini aku mendengar apa yang dibaca oleh محمدا . Jika aku sudah mendekatinya dan mendengarkan apa yang dibaca pasti aku akan mengejutkannya! Aku pun menghampirinya dari balik al-Hajar dan masuk ke dalam kain Kaabah, tidak ada jarak antara diriku dan محمدا  melainkan hanya dibatasi kain Kaabah saja. Saat aku mendengar الْقُرْآنَ, hatiku mencair sehingga membuat aku menangis, sejak saat itu aku beriman.” (Kata Ata’ dan Mujahid yang dikutip oleh Ibnu Ishaq daripada Abdullah bin Abi Najih)
    Mengapa susah sungguh berinteraksi dengan الْقُرْآنَ? Apakah kerana ayat yang kita baca sekarang berbeza dengan ayat didengar Umar? Bukankah الْقُرْآنَ tetap sama dan takkan pernah berubah sampai bila-bila? Lalu sebenarnya, di manakah kesilapan kita?


    PENGHAYATAN BERGANTUNG KEPADA TAFSIRAN DAN KEFAHAMAN

    Orang yang mahir membaca belum tentu memahami rahsia ayat dibaca. Terjemahan dan tafsiran yang baik sedikit sebanyak boleh membentuk imaginasi sebenar. Namun usaha menelusuri maksud ayat seharusnya lebih diutama berbanding dengan membaca saja.
    Bagaimanapun, di kalangan orang ‘ajam yang tidak memahami bahasa Arab seperti kita, ramai lebih mementingkan lagu dan irama padahal ilmu tafsir الْقُرْآنَ sepatutnya mestilah lebih diutamakan.

    Bagaimanakah bacaan itu boleh dinikmati tanpa sebarang penghayatan? Sedangkan penghayatan bergantung kepada tafsiran dan kefahaman. Tak hairan apabila kita membaca tetapi tidak menjiwai bacaan itu. Ia membuat diri kita kehilangan petunjuknya.

    Tujuan memahami tafsir الْقُرْآنَ ialah untuk mencengkam jiwa dengan teguran dan ajarannya, membentuk ilustrasi positif yang menyuntik semangat iman, mendapat inspirasi reda dan sabar ketika diuji. Mendekatkan diri kepada Allah dengan ayat peringatan, suruhan, larangan, pujian dan janji Allah, syurga dan neraka, khabar gembira dan ancaman seksa-Nya.

    Ketika seseorang sudah mencapai kefahaman sempurna mengenai tafsir الْقُرْآنَ, tidak mungkin dia tertawa ketika membaca ayat seksa atau lalai ketika membaca ayat amaran kerana tujuan الْقُرْآنَ diturunkan ialah untuk mencengkam jiwa manusia yang lalai. Supaya ingat jalan pulang ke sisi Tuhannya dan jangan tersesat kerana tidak menggenggam petunjuk yang dibekalkan melalui الْقُرْآنَ.

    Sudah selayaknya orang ‘ajam bukan Arab yang tidak memahami bahasa الْقُرْآنَ bertungkus-lumus menjejaki rahsia Allah melalui kalam-Nya yang mulia dengan mempelajari tafsir الْقُرْآنَ. Siapa kata usaha belajar tafsir hanyalah membazir masa dan wang ringgit? Orang yang berkata sebegini sememangnya tidak memahami betapa agungnya getaran jiwa pernah dirasai Saidina Umar bin al-Khattab.


    MEMILIH AJARAN LAIN DAN MENINGGALKAN  الْقُرْآنَ
    28 May 2008, Dongguan, Xining, Qinghai, 





    Kesilapan dilakukan manusia dalam interaksi dengan الْقُرْآنَ ialah memilih ajaran lain dan meninggalkan ajaran الْقُرْآنَ. Banyak benda boleh menarik perhatian manusia, terutama yang sesuai dengan kehendak nafsu melampau. Duit, kuasa, kedudukan, pangkat, perhiasan dan hiburan adalah keperluan manusia untuk tetap bertahan di belantara kehidupan akhir zaman ini.
    Allah tidak pernah melarang manusia menikmati kurniaan dianugerahkan-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya. Hanya manusia seharusnya ingat tabiat mereka yang mudah dijangkiti kelalaian apabila dibukakan pintu dunia seluas-luasnya. Ayat Allah semakin dipinggirkan, dijual pada harga murah bahkan disembunyikan untuk kepentingan diri dan golongan tertentu.

    Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya yang bermaksud:
      “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Kami berikan kepadanya ayat Kami (pengetahuan mengenai isi الْقُرْآنَ), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan darjatnya dengan ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaan seperti anjing jika kamu menghalaunya dihulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menghulurkan lidahnya (juga). Yang demikian itu adalah perumpamaan orang yang mendustakan ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah itu supaya mereka berfikir.” (Surah al-A’raf, ayat 175-176)

    Sikap orang Yahudi membaca Kitab Taurat tetapi tergamak mencari hukum lain yang lebih sesuai dengan kemahuan nafsu mereka untuk dijadikan landasan hidup. Inilah sikap dimurkai Allah.

    Suatu hari seorang Yahudi meminta ﺮﺴﻮلﷲ صلیﷲ علیﻪ و سلم   menghukum ahli keluarganya yang berzina mengikut hukuman الْقُرْآنَ. Dia sengaja melakukan perkara itu dengan harapan hukum الْقُرْآنَ lebih ringan daripada hukum Taurat. Selepas ﺮﺴﻮلﷲ صلیﷲ علیﻪ و سلم   menegaskan bahawa الْقُرْآنَ juga menjatuhkan hukuman rejam sama seperti dalam Taurat, bangsawan Yahudi itu langsung berpaling dengan bongkak, nyata sekali mereka tidak akan pernah mengikuti mana-mana kitab Allah.


    MEMPERGUNA الْقُرْآنَ DEMI KEPINTANGAN DIRI

    Begitu juga mereka yang memperguna الْقُرْآنَ demi kepentingan diri. Contoh paling mudah, dalam bab poligami bukan main beriman tetapi bab perintah Allah yang lain tidak dipatuhi. Mengapa mahu dipisahkan elemen penting dalam الْقُرْآنَ.

    Sistem akidah, ibadah, jenayah dan muamalat tidak mungkin dipisah, semua sistem buatan manusia seperti sistem ekonomi, politik, pendidikan, sosial dan kenegaraan sudah tersusun rapi dalam الْقُرْآنَ sejak berabad lamanya.

    Alangkah sedihnya apabila orang Islam hanya tahu beriman dengan الْقُرْآنَ setakat malam Jumaat pada majlis membaca Yasin, ketika kematian ahli keluarga atau ketika membuka kedai barunya (menggantung ayat الْقُرْآنَ sebagai azimat dan tangkal).

    Sementara itu akhlaknya tidak mengikuti petunjuk الْقُرْآنَ, ibadahnya menyalahi aturan الْقُرْآنَ, perniagaannya mengamalkan riba dan penipuan, imej dan tutur katanya tidak mewakili kesopanan tatacara الْقُرْآنَ, pemikirannya diracuni fahaman orang kafir yang bertentangan dengan الْقُرْآنَ. Seolah-olah dengan bangga mereka berkata: “Ambillah الْقُرْآنَ jika ia menguntungkan kamu, jika tidak tinggalkan saja.”

    Padahal ﺮﺴﻮلﷲ صلیﷲ علیﻪ و سلم   diberi gelaran sebagai ‘الْقُرْآنَ yang berjalan’. Mereka ini sepatutnya diberi gelaran juga iaitu ‘pemanipulasi الْقُرْآنَ’.

    Ya Allah tundukkanlah hati kami dengan الْقُرْآنَ.



    :::: Sabtu, 27, Muharram 1432 ::::
     Semua Gambar Adalah Hiasan

    ____________________________________
    Dipetik Dari:
    http://drjuanda.protajdid.com/?p=15

    Shared By Bicara Hidayah